Papan Nama SC GMKI Yogyakarta

Menyambut setiap orang yang datang ^^

Drama Paskah,

Sebuah Kreasi Refleksi Iman

Suasana setelah Diskusi,

SC Masih tetap Ramai

Proses Membasuh Kaki,

Simbol Pelayanan dan Penyambutan kepada Anggota Baru GMKI

Sidang Pleno 1 BPC 2011-2013,

Forum Pembahasan Program Cabang

Pelatihan Appreciative Inquiry,

Melatih untuk Bergerak dengan Aset!

Pelatihan Kemampuan Dasar Berorganisasi,

Bekal Perserta dalam Berorganisasi

Kongres GMKI ke-33 di Manado,

Forum Pembahasan Nasional GMKI

Delegasi Kongres GMKI ke-33 di Manado,

Pejuang dan Penyumbang Pemikiran

Usaha Dana Kaos GMKI,

Kreasi Pengumpulan Dana untuk Kebutuhan Delegasi Kongres ke-33

Kecab Palembang-Kecab Jogja,

Keluarga dalam Tuhan dan GMKI

Berkunjung ke Rumah Senior,

Upaya untuk Menjaga Relasi

Stand Expo Pergerakan di FT UGM

Upaya Pengenalan dan Aksi Pelayanan Perguruan Tinggi

Aksi Tolak Kenaikan Harga BBM,

Bentuk Aksi Pelayanan Masyarakat dari GMKI

Refleksi dan Ziarah Hari Pahlawan,

Upaya Mengenang dan Membangkitkan Semangat Para Pahlawan

Wednesday, April 21, 2021

Cerminan Kartini GMKI, Wahyu Irawati Mengandalkan Komitmen dan Pelayanan dalam Dunia Akademik dan Menulis



Kepribadian dalam perjalanan setiap orang sangatlah penting. Sekalipun karakter terbentuk sejak usia dini, akan sangat menentukan kehidupan seseorang. Siapa pun dia, apa pun pekerjaannya, ketika dia memiliki karakter positif, itu akan lebih baik daripada orang yang tidak berkarakter. Oleh karena itu, sangat diperlukan investasi pada kepribadian positif ini sejak usia dini agar dapat menjadi modal perjalanan hidup. Sama halnya dengan Wahyu Irawati, seorang dosen Biologi di Fakultas Pendidikan Universitas Pelita Harapan, yang juga aktif dalam dunia menulis. Beliau mengandalkan komitmen dan pelayanan sejak masih duduk di bangku perkuliahan, salah satu tempat belajar dalam menempah karakter tersebut adalah GMKI. 

 

Wahyu Irawati yang kerap disapa dengan "Ira" ini merupakan lulusan Agronomi di UPN Veteran Yogyakarta pada tahun 1986, dan melanjutkan pendidikan S2 dan S3 di UGM jurusan Mikrobiologi. Tidak hanya kuliah, Wahyu Irawati dulunya juga aktif di organisasi ekstra seperti GMKI. Dengan modal ajakan teman baik saudarinya, Wahyu Irawati mengikuti Mapper GMKI Cabang Yogyakarta tahun 1987. "GMKI adalah rumah kedua saya, dulu ya pas masih kuliah cuma bolak-balik rumah-kampus-GMKI tok" ujar Wahyu Irawati. GMKI di mata Wahyu Irawati adalah tempahan sebagian dari karakter positifnya, tidak hanya tempat berorganisasi biasa, tetapi membentuknya menjadi pribadi yang memiliki prinsip yang kuat. Ketika mengenang kembali masa-masa di GMKI Yogyakarta, Wahyu Irawati banyak bercerita mengenai masa mudanya yang beliau habiskan dengan hal-hal yang positif seperti menjadi Sie Dana di suatu kepanitiaan yang mengharuskan beliau mencari dana dengan menitipkan makanan di Rumah Makan, dan berkeliling menaiki sepeda untuk menyebarkan proposal ke rumah senior GMKI Yogyakarta, tidak hanya itu pada saat menjadi panitia natal GMKI, Wahyu Irawati dan teman-temannya yang lain sangat gencar mencari dana sehingga mereka harus berkreativitas lebih seperti mengolah makanan, kadang berjualan di depan Wisma Imanuel atau dititipkan ke rumah makan dengan keuntungan per buah nya itu sekitar 500 perak. “Dulu saya selalu yang cerewet nagihin uang ke temen-temen biar uang kas dan dana tetap stabil, sampe ya temen-temen saya tuh kalau ada keperluan organisasi atau kepanitiaan yang mendadak langsung inget saya dan berterimakasih karena cerewet saya bermanfaat sehingga uang di kas itu banyak hehehe....” ujar Wahyu Irawati sembari mengingat masa muda nya kala itu.

 

Hal yang masih Wahyu Irawati ingat adalah ketika di GMKI tidak hanya sekedar tempat untuk berorganisasi tetapi menjadi tempat berkumpulnya persaudaraan kristen yang mempererat tali persahabatan, juga belajar public speaking yang menjadi bekal di kehidupan akademik ini. “Di GMKI itu gimana ya kalau bicara soal tatib itu wah lamanya minta ampun, bisa sampe pagi. Ga terlalu ngerti juga sih cuma yang saya dapat adalah public speaking disana bagus, walaupun saya tidak suka politik tapi saya suka ngobrol, dan disana ditata gimana cara ngobrol yang berbobot. Selama 4 tahun pun di GMKI, saya diajarkan lebih pada mengabdi dan berkomitmen, dan itulah prinsip yang saya pegang sampe sekarang. Seseorang yang serius di GMKI terlihat dari tahun mapper (aktif) hingga kapan ia keluar, itu terlihat apakah GMKI menjadi tempat main atau pelayanan baginya” jelas Wahyu Irawati. Selain menjadi dosen yang memiliki komitmen untuk menyeimbangkan pengajaran, penelitian, dan pengalaman, Wahyu Irawati juga aktif menulis di website yang khusus menulis segala sesuatu mengenai Biologi terutama Biologi Murni. Wahyu Irawati juga aktif menulis secara intens sejak tahun 1997 dari tugas akhir yang menjadi perhatian bagi dosennya di jenjang perkuliahan S3, semenjak itu Wahyu Irawati menjadi lebih sering menulis dan share ke orang lain.

 

Jika komitmen dan pengabdian ada pada diri wanita, maka ia akan menjadi wanita yang hebat” jawab Wahyu Irawati ketika diberi pertanyaan mengenai wanita khususnya kartini-kartini muda GMKI. Hendaknya wanita tetap elegan dengan menyeimbangkan semuanya, tidak muluk-muluk. Komitmen dan pengabdian menjadi apa yang Wahyu Irawati pegang hingga kini pun berasal dari tempat yang beliau sebut sebagai “rumah keduanya” yaitu GMKI. Tidak hanya itu, tetapi untuk tetap fokus pada apa yang dikerjakan juga menjadi poin penting bagi keberlangsungan dari komitmen itu sendiri. Begitu juga dengan berkat Tuhan, akan ada dan selalu ada, sehingga sebagai orang kristen harus tetap setia dan tidak kalah dengan hal-hal duniawi.

Senior GMKI Yanti, “Senang bergaul, tapi tetap pada koridornya, tetap aktif dan peduli sekitar. Alhasil wanita tidak akan pernah salah jalan”



Hari Kartini didasari untuk mengingat besarnya jasa Kartini pada bangsa Indonesia khususnya untuk kaum wanita. R.A Kartini merupakan sosok wanita tangguh dimana ia memperjuangkan pilihannya. Sama seperti wanita sezamannya, Kartini tidak bebas menentukan pilihannya dan diperlakukan berbeda dengan pria, hal ini memicu ketidakadilan antara kaum wanita dan pria. Adanya perjuangan Kartini pada zaman itu membuat kaum wanita dapat sekolah setinggi-tingginya, wanita dapat menentukan karier nya, dan hal apapun yang menjadi pilihan bagi setiap wanita. Perjuangan Kartini dapat dinikmati dan dirasakan oleh beberapa generasi yang membuat generasi masa kini lebih teredukasi dan bebas melakukan segala sesuatu sesuai dengan passionnya terutama kaum wanita. Sama halnya dengan senior GMKI Yanti, yang menentukan untuk melakukan apapun yang ia suka dan yakini untuk dijalani tanpa paksaan dari orang lain.

 

Senior GMKI Yanti atau kerap dipanggil “Molen” oleh teman-teman sezamannya pada masa di Wisma Imanuel karena suka “malak-in” uang senior untuk beli Molen yang dimakan ramai-ramai di GMKI. Pada tahun 1988, Senior GMKI Yanti mengikuti Mapper GMKI Cabang Yogyakarta, dan aktif mengikuti kegiatan GMKI seperti kepanitiaan Mapper, Kaderisasi, Konfercab, dan menjadi salah satu fungsionaris di GMKI Cabang Yogyakarta. “Kalau bicara tentang GMKI zaman ku dulu ya harusnya tidak jauh beda dengan GMKI masa sekarang. Mungkin berbeda pada segi teknologi, kalau zaman sekarang kan apa-apa mudah jadi mungkin masalahnya juga semakin lebih banyak lagi (kompleks) daripada yang dulu. Kalau inget-inget orang yang di GMKI hanya beberapa saja ada yang inget ada yang udah lupa, tapi ya lebih banyak yang inget sih karna dulu aku orangnya rame heheh” ujar Senior GMKI Yanti.

 

Menurut Senior GMKI Yanti, anak-anak zaman sekarang terutama perempuan lebih pinter daripada zaman yang dulu, walau standar semakin meningkat itu malah membuat perempuan zaman sekarang lebih banyak berjuang karena harus menyeimbangkan dengan standar yang ada, karena jika tidak maka bakal ketinggalan jauh, itu yang memicu anak-anak zaman sekarang lebih pinter. Perempuan zaman sekarang harusnya lebih berani dan menentukan apapun yang ia suka sesuai dengan pilihannya tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Perempuan sekarang harus lebih kuat karena harus mengejar ketertinggalan setelah beratus-ratus tahun lamanya di bawah laki-laki. Perjuangan Kartini belum selesai, malah perjuangan lanjutan bagi setiap perempuan ini terasa lebih berat, dengan perkembangan teknologi yang ada pada masa kini bisa menjadi dorongan yang baik bagi perempuan bagi berkembang sekaligus menjadi pisau yang tajam yang bisa menusuk yang membuat perempuan berhenti berjuang. Hari Kartini tidak hanya fokus pada emansipasi wanita tetapi juga berpengaruh pada pola pikir pria yang dari dulu telah ditanamkan derajat mereka lebih tinggi dari perempuan, ini membuat pria berpikir bahwa wanita dan pria itu sama atau setara yang membuat cara bertingkah laku satu sama lain lebih baik dari sebelumnya.

 

Manusia zaman sekarang terutama anak remaja sangat bebas untuk melakukan apapun, kalau tidak diawasi maka akan menjadi suatu kehancuran. Untuk itu, adanya kepengawasan yang teratur tetapi tidak mengikat. Banyak kepengawasan yang dilakukan atas nama “menjaga” malah menjadi beban bagi anak tersebut seperti contoh adanya peraturan yang tidak adil antara pria dan wanita, dimana hal ini membebankan dan mengikat kaum wanita sehingga wanita tidak lagi dapat melakukan apa yang ia suka, untuk itu adanya kesetaraan antara wanita dan pria yang juga berlaku pada suatu “kepengawasan” tersebut. Hendaknya wanita tetap pada pergaulan yang sama dengan pria, tapi tetap pada koridornya, lebih aktif pada bidang yang digeluti dan tetap peduli dengan sekitarnya, maka ini menjadi keistimewaan bagi setiap wanita yang melakukannya.

Friday, April 10, 2020

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Kegiatan Wisata


Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Kegiatan Wisata
Oleh: Bonifasius Samongan Uot

Coronavirus adalah suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Beberapa jenis coronavirus diketahui menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus jenis baru yang ditemukan menyebabkan penyakit COVID-19. Apa itu COVID-19. COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan. Ini merupakan virus baru dan penyakit yang sebelumnya tidak dikenal sebelum terjadi wabah di Wuhan, Tiongkok, bulan Desember 2019.
Dalam kondisi saat ini, virus corona bukanlah suatu wabah yang bisa diabaikan begitu saja. Jika dilihat dari gejalanya, orang awam akan mengiranya hanya sebatas influenza biasa, tetapi bagi analisis kedokteran virus ini cukup berbahaya dan mematikan. Saat ini di tahun 2020, perkembangan penularan virus ini cukup signifikan karena penyebarannya sudah mendunia dan seluruh negara merasakan dampaknya termasuk Indonesia. Mengantisipasi dan mengurangi jumlah penderita virus corona di Indonesia sudah dilakukan di seluruh daerah. Diantaranya dengan memberikan kebijakan membatasi aktifitas keluar rumah, kegiatan sekolah dirumahkan, bekerja dari rumah (work from home), bahkan kegiatan beribadah pun dirumahkan. Hal ini sudah menjadi kebijakan pemerintah berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang sudah dianalisa dengan maksimal tentunya.
COVID-19 membawa dampak yang sangat besar dalam pekerjaan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan World Travel & Tourism Council (WTTC), 75 juta orang yang bekerja di industri perjalanan dan pariwisata di seluruh dunia bisa kehilangan pekerjaan mereka. Kita sebagai masyarakat Indonesia harus tahu dan sadar bahwa dampak COVID-19 terhadap perekonomian Indonesia mempengaruhi sisi produksi dan sisi pengeluaran perekenomian. Salah satu penyebab Virus Corona mudah menyebar di Indonesia adalah karena Indonesia merupakan negara dengan sektor pariwisata. Sektor pariwisata merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam pertumbuhan perekonomian Indonesia dan memiliki kontribusi devisa terbesar kedua di Indonesia setelah devisa hasil ekspor Kelapa Sawit. Sektor pariwisata memiliki dampak jangka pendek dan jangka panjang pada perekonomian Indonesia. Dampak jangka pendek dapat di rasakan secara langsung, sedangkan dampak jangka Panjang dapat dilihat dengan bertambahnya pendapatan nasional, namun dengan adanya COVID-19 semuanya tak lagi sama.
Salah satu contohnya dengan ditutupnya obyek wisata di kabupaten badung bali. Pembatasan ini dilakukan untuk memutus rantai COVID-19 yang sudah mewabah di Indonesia sendiri. Sektor pariwisata yang sekarang mengalami kelesuan sehingga daya beli menurun secara drastis karena berkurangnya pengunjung baik turis lokal maupun turis mancanegara, yang secara otomatis pendapatan dan devisa yang di hasilkan dari sektor pariwisata semakin menurun. Hal ini mengakibatkan sektor pariwisata menjadi lumpuh sementara, sehingga pengangguran semakin bertambah karena pariwisata merupakan salah satu wadah yang memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar tempat wisata maupun masyarakat dari luar.
Menyikapi kondisi perekonomian Indonesia yang semakin menurun maka dengan demikian, Pada  aspek pariwisata  ini,  banyak  pihak  yang  mengkritik  pemerintah  karena  ketika munculnya virus corona. Pemerintah Indonesia justru semakin memberi kesempatan kepada wisatawan asing untuk berkunjung ke Indonesia. Wisatawan asing yang dimaksud ada yang berasal  dari  China  yang  notabene  tempat  munculnya  pertama  sekali  corona  virus  disiases tahun  2019. Ada juga wisatawan asing yang berasal dari Negara lain. Padahal wisatawan negara asing tersebut bisa saja sudah terjangkit terlebih dahulu virus corona tersebut. Para wisatawan asing tersebut datang ke Indonesia melalui pintu masuk dalam hal ini melalui Bandar udara dan melalui pelabuhantanpa adanya alat deteksi virus corona. Padahal banyak Negara sudah melarang sementara waktu kedatangan para wisatawan ke negaranya. Bahkan saking  tidak  takutnya  pemerintah Indonesia terhadap  ancaman  virus  corona  ini, terkesan  santai  dan  bahkan  seperti  acuh  tak  acuh  dalam mensosialisasikan  dampak  dan pencegahan virus corona tersebut
Di sisi lain bisa kita lihat dari dampak sosialnya Berdasarkan kondisi tersebut, maka Indonesia dalam status waspada terhadap ancaman virus corona tersebut. Pemerintah Indonesia masih menganggap bahwa penanganan virus corona masih sebatas pembatasan sosial saja. Meskipun pembatasan sosial tersebut tidak   diuraikan   dalam   bentuk   suatu   perundang-undangan,   mestinya   perlu adanya   kriteria   dan pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar. Banyak kalangan menilai bahwa sudah semestinya tindak lockdown sudah  sangat  layak diterapkan  di Indonesia.Tindak ini dianggap paling  efektif  untuk mencagah  masuknya  virus  corona  dari kedatangan  orang  dari  luar  negeri. Tapi pemerintah tidak melakukan tersebut. Justru langkah pembatasan sosial (social distancing). Padahal social distancing ini masih rawan terhadap persebaran virus karena banyak masyarakat yang tidak mau mengikutinya.
Kemudian  persoalan  lainnya   yang  muncul   yakni  pemerintah  dituntut  untuk  sesegera mungkin  menangani  ancaman  nyata  Covid-19.  Jawaban  sementara  terkait  dengan  persoalan tersebut  ternyata  telah  ada  dalam  Undang-Undang  Nomor  6  Tahun  2018  tentang  Kekarantinaan Kesehatan. Dimana  dalam undang-undang  tersebut  telah  memuat  banyak hal  terkait  dengan  kekarantinaan  kesehatan,  pihak yang  berwenang  menetapkan  kedaruratan  kesehatan  masyarakat,  dan  lain  sebagainya.  Dalam undang-undang  tersebut  juga  menentukan  apa  saja  peraturan  pelaksanaan  sebagai  tindak  lanjut ketentuan dalam kekarantinaan kesehatan. Namun berdasarkan observasi awal saya menemukan bahwa peraturan pelaksanaan sebagai ketentuan lanjutan dari UU Kekarantinaan Kesehatan belum ada padahal peraturan pelaksanaan tersebut sangat perlu untuk segera dibentuk.

Monday, September 9, 2019

Audensi BPC dengan Rektor UKRIM Yogyakarta


Sleman - Badan Pengurus Cabang GMKI Yogyakarta masa bakti 2018-2020 melakukan audensi dan silaturahmi dengan kampus UKRIM pada tanggal 07 September 2019 yang bertempat di ruang III/A/6z.

Kedatangan GMKI Yogyakarta disambut baik oleh Rektor UKRIM Dr. Eka Setyadi, M.Pd.K, didampingi Warek III Bidmawa, Liefson dan Dosen tetap UKRIM David. Dari GMKI sendiri juga hadir Ketua Cabang GMKI Yogyakarta Yohanes Masudede S.H., M.H., Bendahara Cabang Hamedoni Harita, S.T. dan Bendahara Komisariat, Krisda sebagai perwakilan dari Komisariat Elia.

Pada pertemuan tersebut BPC GMKI Yogyakarta dipersilahkan untuk menyampaikan hal-hal yang ingin disampaikan, dan ada dua hal penting yang disampaikan yaitu pertama berkaitan dengan kondisi kebangsaan yang terjadi akhir-akhir ini. Kedua peran gerakan mahasiswa kristen dalam mengawal setiap permasalahan maupun isu yang dapat mengancam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara di NKRI ini, ucap ketua cabang GMKI Yogyakarta 

Oleh karena itu, besar harapan BPC GMKI Yogyakarta dalam pertemuan ini dapat menjalin kerjasama yang lebih intens dengan pihak kampus UKRIM baik itu soal pelayanan mahasiswa kristen maupun dalam mengawal persoalan bangsa saat ini. Karena UKRIM merupakan kampus yang hampir 90% adalah mahasiswa beragama kristen sehingga keterlibatannya di dalam berproses di GMKI Yogyakarta akan menjadi sebuah hal yang sangat penting.

Organisasi ekstrnal mahasiswa dalam hal ini Gmki sangat tepat  kehadirannya di tengah-tengah mahasiswa Kristen sebagai wadah pemersatu dalam membentuk karakter mahasiswa Kristen yang beriman dan berilmu berdasarkan kasih, dengan selalu mengingat kuliah adalah prioritas, tutur Rektor Ukrim

Warek III bidmawa Ukrim menambahkan untuk membangun kerjasama ada baiknya diskusi terus dilaksanakan antara pihak kampus dan organisasi mahasiswa di internal kampus sehingga dapat  menyesuaikan dgn Visi Misi kampus. (Yohanes Masudede)

Seminar Nasional Dan Pelatihan Advokasi Perempuan


Daerah Istimewa Yogyakarta - Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia menggelar seminar nasional dan pelatihan advokasi perempuan yang bertemakan perempuan cerdas, perempuan berdaya yang dilaksanakan di Yogyakarta bertempat di auditorium UKDW pada tanggal 29 Agustus 2019.
Kegiatan ini di buka oleh Prof. Dr. Sri Adiningsih, M.Sc. (Wantimpres) dan didampingi oleh ketua umum Pengurus Pusat GMKI, Korneles Galanjinjinay, Rektor UKDW Ir. Henry Feriadi, M.Sc., Ph.D. serta ketua cabang GMKI Yogyakarta, Yohanes Masudede selaku tuan rumah dari kegiatan ini.
Hadir juga mantan Wakil Ketua DPD RI Gusti Kanjeng Ratu Hemas sebagai keynote speaker dalam kegiatan seminar dan pelatihan advokasi perempuan tersebut. Gusti Kanjeng Ratu Hemas Menyampaikan “Saya merasa bangga mendukung kegiatan ini sebagai perwujudan bentuk potensi kaum perempuan Indonesia di Indonesia dan khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta, yang selama ini saya selalu perjuangkan untuk kemajuan kaum perempuan sesuai dengan martabat dan hakekat kaum perempuan.” Ungkap GKR Hemas
“Upaya memberdayakan kaum perempuan sudah di gagas sejak pemerintahan orde baru dengan dibentuknya kementerian yang mempunyai urusan di bidang pemberdayaan perempuan dan dilanjutkan sampai pemerintah saat ini. Peran kaum perempuan yang diharapkan tidaknya hanya urusan domestik rumah tangga saja, tetapi dalam segala sektor dan bidang yang sesuai dengan martabat dan hakekat kaum perempuan yaitu seperti di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan. Kaum perempuan tidak boleh pasif. Berperan dalam semua sektor itu adalah hak kaum perempuan. Hak itu harus diperjuangkan.” Tambah GKR Hemas 
Ketum umum Pengurus Pusat GMKI Korneles Galanjinjinay dalam sambutan menyampaikan bahwa “melihat data dari Komnas perempuan maka ada sekitar 348.446 kasus kekerasan terhadap perempuan. Oleh sebab itu, maka pendekatan penyelesaian kasus kekerasan perempuan harus di mulai dari hulu sampai ke hilir.” Ungkapnya. “Mulai dari pendidikan, pelatihan, policy (kebijakan/UU), advokasi dan penegakan hukum.” Tambahnya.
Adapun narasumber dalam seminar tersebut yaitu Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Prof. Dr. Sri Adiningsih, M.Sc., Dr. Ir. Arianti Ina Restuani Hunga, M.SI (akademisi UKSW), Pdt. Krise Gosal (wakil sekretaris umum PGI) dan Yowanda (Sekfung PKP PP GMKI).
Seminar tersebut hadiri oleh berbagai elemen masyarakat baik itu peserta pelatihan advokasi perempuan, lembaga keumatan, kampus, kelompok cipayung plus, maupun dari kalangan masyarakat pada umumnya. (Yohanes Masudede)

Saturday, August 17, 2019

Ziarah dan Refleksi Peringatan Hari Kemerdekaan



Perayaan HUT kemerdekaan Indonesia yang dilaksanakan setiap tahun oleh segenap lapisan masyarakat Indonesia bukan hanya sebatas perayaan serimonial, tetapi lebih dari itu momentum HUT Indonesia ke-74 adalah momentum historis berdirinya Indonesia sebagai sebuah negara yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Dalam refleksi HUT Indonesia yang ke-74 Gerekan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Yogyakarta melakukan ziarah ke makam Jendral Soedirman di Jl.Kusumanegara Kota Yogyakarta. Ketua Cabang GMKI Yogyakarta Yohanes Masudede, S.H.,M.H., mengajak seluruh komponen masyarakat untuk kembali merefleksikan cikal bakal perjuangan para Founding Father dalam merebut dan mempertahankan NKRI.

Yohanes juga meyampaikan bahwa perjuangan meraih kemerdekaan bukan hal yang mudah, para pahlawan rela mewakafkan jiwa dan raganya untuk merebut dan mempertahankan Indonesia sebagai sebuah negara dari tangan penjajah saat itu.

Nilai-nilai perjuangan yang diwariskan oleh para pahlawan harus tetap dipertahankan dan dilaksanakan oleh generasi muda saat ini, karena perjuangan generasi muda hari ini bukan lagi pertarungan fisik untuk merebut Indonesia dari tangan penjajah tetapi perjuangan generasi muda hari ini adalah pada tataran dialektika, ide dan gagasan.

Oleh sebab itu, dalam refleksi HUT Indonesia ke-74 ini, generasi muda dituntut harus mampu mengkristalisasi nilai-nilai perjuangan dalam bentuk ide, gagasan dan tindakan demi Indonesia yang dicita-citakan.


 Indonesia Menang

 Indonesia Maju

 Indonesia Jaya

 Merdeka ✊

Seruan Bersama Lembaga Keumatan Kristen di Daerah Istimewa Yogyakarta


Seruan Bersama Lembaga Keumatan Kristen

PERSEKUTUAN GEREJA DI INDONESIA Wilayah DIY (PGI)

PERSATUAN INTELEGENSIA KRISTEN INDONESIA (PIKI)

PERSATUAN WANITA KRISTEN INDONESIA (PWKI) GERAKAN ANGKATAN MUDA KRISTEN INDONESIA (GAMKI) GERAKAN MAHASISWA KRISTEN INDONESIA (GMKI) di Daerah Istimewa Yogyakarta



"Menyongsong Indonesia Maju Tanpa Penindasan Dalam Keadaban Relijius yang Berperikemanusiaan dan Berkeadilan Sosial”

Pendahuluan

Masyarakat Kristen di Indonesia sudah terlibat aktif sejak sebelum masa perjuangan kemerdekaan Indonesia dan ikut andil dalam mencapai proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Hal tersebut bisa ditandai dengan terbentuknya sembilan organisasi Kristen yaitu GSKI (siswa), GMKI (mahasiswa), GAMKI (angkatan muda), PWKI (wanita), PIKI (inteligensia), Pertakin (Tani), LKIK (Kebudayaan), Kespekri (Buruh/Pegawai), dan PARKINDO (Partai Kristen Indonesia) sebagai wahana aktualisasi peran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada momentum awal kemerdekaan Republik Indonesia tersebut, kami merasakan sebagai subyek yang aktif dan ikut berperan strategis.

Namun kami mencatat di Daerah Istimewa Yogyakarta, kasus kekerasan berbasis agama dalam tahun 2018-2019 menunjukkan kecenderungan meningkat secara kuantitatif dan kualitatif. Kasus itu antara lain dengan adanya peristiwa kekerasan penyerangan fisik, munculnya kesepakatan warga yang diskriminatif untuk menolak umat beragama lain agar bisa tinggal di suatu daerah, munculnya penolakan camat yang tidak sesuai dengan agama mayoritas, sampai yang terakhir yaitu kasus pencabutan IMB rumah ibadah di Sedayu yang terfasilitasi bupati sebagaimana diatur oleh peraturan bupati merujuk peraturan bersama menteri nomor 8-9 tahun 2006. Saat ini kita telah memasuki 74 tahun kemerdekaan Indonesia, peran tokoh dan organisasi Kristen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang dulu sangat kuat serta strategis, sekarang cenderung menjadi obyek persoalan pembangunan.
Kita masih banyak melihat persoalan yang belum terpecahkan secara optimal, kecenderungan persoalan seperti itu akan menjadi ancaman terhadap Pancasila dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika.

Kami organisasi keumatan Kristen di Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan ini menyatakan sikap politik sebagai berikut :

1.   Kami mendukung Presiden Republik Indonesia untuk melindungi segenap warga negara dalam memperoleh hak dasarnya yaitu: hak kebebasan menjalankan ibadah agamanya, hak untuk mendapatkan akses atas keadilan didepan hukum, hak mendapatkan akses penghidupan yang layak, hak akses partisipasi, hak akses pendidikan dan kesehatan, serta terpenuhinya seluruh hak asasi manusia warga negara Indonesia.

2.   Kami mendorong dan mendesak Aparatur Sipil Negara dan penegak hukum baik di tingkat pusat sampai ke jajaran paling bawah agar menjalankan tugas pokok dan fungsinya secara konsekuen, adil, dan tidak diskriminatif.

3.     Kami bergerak secara proaktif, bersama elemen bangsa lainnya untuk melawan setiap tindakan yang mengancam serta membahayakan tegaknya Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

4.      Kami mendorong keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta dan siap untuk berperan secara proaktif dalam upaya mensejahterakan masyarakat.

5.      Kami menyerukan kepada umat Kristen untuk tidak takut melawan setiap tindakan

diskriminatif maupun gerakan radikal dengan basis ideologi Khilafah.

Demikianlah seruan bersama sikap kami yang menjadi bagian dari rasa cinta Tanah Air Indonesia dan kontribusi kami demi kesejahteraan bersama serta perdamaian Bangsa dan Negara Indonesia.