Papan Nama SC GMKI Yogyakarta

Menyambut setiap orang yang datang ^^

Drama Paskah,

Sebuah Kreasi Refleksi Iman

Suasana setelah Diskusi,

SC Masih tetap Ramai

Proses Membasuh Kaki,

Simbol Pelayanan dan Penyambutan kepada Anggota Baru GMKI

Sidang Pleno 1 BPC 2011-2013,

Forum Pembahasan Program Cabang

Pelatihan Appreciative Inquiry,

Melatih untuk Bergerak dengan Aset!

Pelatihan Kemampuan Dasar Berorganisasi,

Bekal Perserta dalam Berorganisasi

Kongres GMKI ke-33 di Manado,

Forum Pembahasan Nasional GMKI

Delegasi Kongres GMKI ke-33 di Manado,

Pejuang dan Penyumbang Pemikiran

Usaha Dana Kaos GMKI,

Kreasi Pengumpulan Dana untuk Kebutuhan Delegasi Kongres ke-33

Kecab Palembang-Kecab Jogja,

Keluarga dalam Tuhan dan GMKI

Berkunjung ke Rumah Senior,

Upaya untuk Menjaga Relasi

Stand Expo Pergerakan di FT UGM

Upaya Pengenalan dan Aksi Pelayanan Perguruan Tinggi

Aksi Tolak Kenaikan Harga BBM,

Bentuk Aksi Pelayanan Masyarakat dari GMKI

Refleksi dan Ziarah Hari Pahlawan,

Upaya Mengenang dan Membangkitkan Semangat Para Pahlawan

Sunday, April 21, 2019

Kesetaraan Gender, perjuangan bersama laki- laki dan perempuan


PERAYAAN PASKAH & HARI KARTINI

Kesetaraan Gender, perjuangan bersama laki- laki dan perempuan

Oleh: Ray Adrian Purba


Ada yang menarik pada perayaan Paskah tahun ini, yang bersamaan dengan peringatan Hari Kartini yang merupakan salah satu tokoh kebangkitan Perempuan di Indonesia.

Dikisahkan pada Injil Lukas, orang2 pertama yang datang ke kubur Yesus adalah kaum perempuan. Mereka adalah orang-orang yang pertama kali melihat kubur telah kosong dan kemudian menceritakannya kepada para murid.

Dalam kebudayaan Orang Yahudi pada masa itu, Perempuan tidak dianggap sebagai manusia seutuhnya. Kebudayaan Patriarki yang sedemikian ketatnya, bahkan membuat perempuan tidak dapat dianggap sebagai saksi dan memberikan kesaksian, tidak dapat menjadi imam, bukan menjadi ahli waris utama, dianggap Najis pada periode proses biologis tertentu, dan lain sebagainya.

Hal ini terlihat kembali pada Kisah kebangkitan Yesus yang dikisahkan pada Injil Lukas. Ketika perempuan- perempuan itu kembali dari kubur dan menceritakan kesaksian mereka tentang Kubur yang telah kosong, para Murid tidak percaya dan menganggap apa yang disaksikan oleh para perempuan itu adalah omong kosong dan tidak dapat dipercaya.

"Dan setelah mereka kembali dari kubur, mereka menceriterakan semuanya itu kepada kesebelas murid dan kepada semua saudara yang lain. Perempuan-perempuan itu ialah Maria dari Magdala, dan Yohana, dan Maria ibu Yakobus. Dan perempuan-perempuan lain juga yang bersama-sama dengan mereka memberitahukannya kepada rasul-rasul.  Tetapi bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu."
(Lukas 24:9-11)

Dalam kejadian ini kita diperlihatkan bahwa "perempuan" yang pada saat itu mengemban posisi gender yang lemah, dipakai Tuhan sebagai orang-orang pertama yang menjadi saksi atas kebangkitanNya.
Ini menunjukkan bahwa Yesus yang telah bangkit menempatkan perempuan dalam posisi yang penting, strategis, dan mulia.

Melalui momen ini mengingatkan kita bahwa Yesus berkehendak menempatkan perempuan dalam posisi yang setara dengan laki-laki, dan Tuhan tidak memandang remeh / rendah perempuan.

Hari ini, 21 April adalah hari yang bertepatan dengan kelahiran R.A. Kartini, pejuang kesetaraan gender di Indonesia. Kebudayaan  nenek moyang Nusantara, khususnya Jawa pada saat itu juga meletakkan perempuan sebagai posisi yang tidak setara dengan laki-laki. Perempuan memiliki batasan- batasan tertentu dalam menjalankan hidup, misalnya untuk memperoleh pendidikan, mengekspresikan diri, bekerja dan memperoleh pendapatan, dan lain sebagainya. Namun, dalam situasi yang seperti itu, R.A. Kartini memberikan teladan melalui perjuangannya dalam memperjuangkan hak- hak perempuan. Hingga tiba pada saat sekarang ini, kesetaraan gender dan perlindungan hak-hak perempuan terus diperjuangkan.

Kesetaraan Gender dan Perlindungan hak-hak perempuan tidak hanya dapat diperjuangkan oleh kaum perempuan saja.
Kesetaraan gender harus diperjuangkan bersama- sama dengan kaum pria. Perlu adanya pula usaha Reformasi maskulinitas, yaitu usaha untuk menempatkan kaum pria setara dengan pekerjaan-pekerjaan yang selama ini diidentifikasi sebagai pekerjaan perempuan saja. Misalnya, merawat anak, membereskan rumah, dll. Dengan demikian, akan lebih mudah terwujud sebuah kesetaraan gender yang seutuhnya, bukan malah kesetaraan semu yang dimana malah membebankan perempuan yang di satu sisi dituntut untuk bekerja dan "setara" dengan laki-laki, namun di satu sisi masih dibebankan dengan kewajiban pokok dan mutlak nya sebagai perempuan, yaitu mengurus rumah, anak, dan suami.

Usaha dan inisiatif dari kedua belah pihak untuk kesetaraan gender adalah suatu keharusan, agar kesataraan yang dimaksud tidak lagi menjadi impian yang semu. Apalagi, salah satu permasalahan gender saat ini adalah mengenai pelecehan dan kekerasan seksual yang mayoritas dilakukan terhadap perempuan dan anak.

Semoga kesetaraan gender yang seutuhnya dapat segera kita wujudkan. Jayalah Perempuan !

Tuhan telah merancangkan skenario hebat dalam hidup kita


Tuhan telah merancangkan skenario hebat dalam hidup kita

Oleh:
Bonifasius Samongan Uot
 (Kader GMKI Cabang Yogyakarta)


Mungkin kita pernah mendengar peribahasa “keledai tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya”. Artinya orang bodoh tidak akan berbuat kesalahan yang sama. Kalimat ini berarti bahwa keledai sendiri belajar dari pengalaman. Pengalaman hidup yang dapat dilihat pada masa lampau. Saya rasa disinilah kita perlu belajar dari keledai, yang senantiasa belajar dari pengalaman. Tapi kenyataannya, berapa sering kita jatuh ke dalam lubang sama? Kerap kali kita mudah jatuh mengulangi kesalahan yang pernah kita perbuat sebelumnya, dan biasanya kita lakukan tanpa sadar.
Menyesal sih, tapi jatuh lagi, begitu berulang. Biasanya kita mengarah kepada sifat atau kebiasaan yang sepertinya sulit untuk kita rubah. Itulah saya, Anda dan kita semua. Namun Saya mau mengatakan bahwa hidup yang kita jalani pasti tidak terlepas dari iman, pengharapan, dan terima kasih. Siapa pun manusia itu, pasti harus memiliki iman atau kepercayaan kepada Allah. Tentu kesadaran memegang peranan penting agar kita tidak terus-menerus jatuh ke dalam jebakan yang sama.
Contohnya ketika kita melihat sebuah film yang berjudul the case of Christ, semakin seru konflik yang terjadi maka film itu akan semakin menarik. Jika adegan dalam film tersebut biasa-biasa saja, maka film tersebut akan kurang diminati. Di balik sebuah film yang hebat, tentu ada penulis skenario yang hebat pula. Begitu pula dengan hidup kita. Bila hidup kita ingin menjadi berkualitas, maka kita harus bisa berserah kepada Tuhan. Dia telah merancangkan skenario yang hebat dalam hidup kita dan Ia menunggu waktu di mana kita berbalik serta mengandalkan-Nya.
Saat kita menjalani skenario Tuhan, pastilah akan terjadi hal-hal yang menyakitkan bagi diri kita sendiri. Terkadang kita dituntut untuk tetap mengasihi walau kita terluka, kita harus tetap memberi walau berada di dalam kekurangan, dan kita harus tetap mengampuni walau dikecewakan berkali-kali. Tuhan ingin kita menjadi hebat dalam segala kebaikan. Tuhan ingin kita menjadi tak terkalahkan dalam hal mengasihi. Dan Tuhan ingin menjadikan kita sebagai saluran berkat dengan tetap memberi bagi sesama. Saluran berkat yang alirannya tak pernah kering dalam hidup kita. Sebagaimana tersurat dalam Kitab Suci “Barangsiapa yang percaya kepada-Ku, dalam hatinya akan terpancar mata air yang memberi hidup” (Yohanes 7:38).
Semua karena kasih Tuhan. Tidak ada yang lebih melegahkan selain berserah. Berserah bukan berarti berputus asa. Berserah adalah mengandalkan Tuhan dengan tetap berjalan dalam kehendak-Nya. Di dalam berserah, maka kita mempercayakan hidup untuk dikendalikan oleh Tuhan. Saat kita mengandalkan kekuatan diri sendiri dan menemui kegagalan, kita akan merasakan kekecewaan. Namun saat Tuhan yang pegang kendali, sekalipun rencana kita gagal, Tuhan akan menggantinya dengan rencana-Nya yang lebih baik. Seperti tertulis dalam Kitab Suci “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33). Artinya adalah tuhan telah membuat kerajaan kasih, kebenaran dan kedamaian dalam dunia ini, yaitu kerajaan keselamatan. Ketika Tuhan berbicara demiakian, berarti Tuhan sedang meminta kepada kita untuk membuat Dia dan pelayanan kepada-Nya menjadi perhatian yang tertinggi. Jika kita mau menyerahkan diri kita untuk melayani Allah, maka Dia akan melengkapi keperluan kita.
Sekarang yang menjadi pertanyaan buat kita sebagai anggota GMKI adalah bagaimana skenario kita menghadirkan Shaloom Allah ditengah-tengah lingkungan Masyarakat, Perguruan Tinggi dan Gereja. Kiranya Tuhan memberikan jalan keluar untuk pergumulan kita. Amin. Tuhan Yesus memberkati.
Ut Omnes Unum Sint!


Saturday, March 16, 2019

Menghidupi Keteladanan Yesus Kristus dalam Kehidupan Sehari-hari


MENGHIDUPI KETELADAN YESUS KRISTUS DALAM KEHIDUPAN
SEHARI-HARI

Oleh: Bonifasius Samongan Uot

Prodi Pendidikan Fisika
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
(Kader GMKI Cabang Yogyakarta)



PA GMKI Cabang Yogyakarta (Kamis, 14/03/19)

Pertanyaan refleksi “kalau waktu bisa di ulang, moment apa yang bisa di ulang?
Dalam kehidupan sehari-hari kita pernah mengalami kekecewaan sehingga ketika segalanya bentuk aktivitas kerja yang kita inginkan. Dalam pergumulan selalu memberi warna setiap langkah perjuangan. Harapan untuk selalu memperbaiki diri dan relasi dengan Tuhan Yesus maupun sesama menjadi sebuah resolusi untuk hari esok. Tidak jarang batuan terjal dan jalan berliku harus tetap dilalui dalam kesendirian sekalipun. Seringkali kita putus asa, hilang arah dan harapan, seiring dengan sirnanya semangat. Tentu saja kita tidak boleh mempertanyakan Tuhan dalam keadaan itu, seolah-olah kita lebih tahu dari Dia. Kita diajarkan untuk memahami dan berdoa kepada Tuhan apakah yang salah dalam langkah kita. Agar kita dapat belajar dan menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang.
Kita mungkin pernah bertemu dengan orang yang mempertanyakan iman kita hal ini bisa muncul dari siapa saja, dan dimana saja. Mengapa mempercayai Yesus Kristeus sebagai Tuhan? Mengapa kita ke Gereja tentu saja masih banyak pertanyaan lainnya. Sebagai orang percaya, kita diminta selalu siap sedia dalam memberi pertanggungjawaban iman. Merupakan salah satu cara, kita harus menggunakan setiap kesempatan untuk tugas penting dalam kehidupan sehari-hari. Tuntutan memperingatkan kita, sebagai orang percaya, untuk terus belajar seperti keteladanan Yesus Kritus. GMKI memiliki peran penting dalam persekutuan iman dan menghadirkan syalom allah tengah-tengah setiap pelayanannya di Gereja, Perguruan Tinggi dan Masyarakat.
Hal pertama yang harus kita ingat adalah bahwa Tuhan tidak pernah gagal untuk melakukan apa yang terbaik bagi semua orang yang terlibat. Dan tidak pernah mundur dari janji yang telah diberikan pada alkitab, salah satu bukti dari firman Tuhan ada pada alkitab dalam (Matius 4:1-11) tentang percobaan di padang gurun.  Ketika kita simak kembali mengenai ayat kitab suci tersebut, ada poin penting dari kisah Yesus sendiri yaitu bahwa disitu ada percobaan dan keselamatan. Artinya adalah jangan menjadikan diri kita yang egois terhadap hal-hal yang berkaitan dengan dunia. Namun kiranya kita memiliki hati seperti yesus, tangan seperti yesus yang siap untuk menjalani setiap percobaan yang terjadi dalam pergumulan hidup sehari-hari kita. Inilah teladan yang diberikan yesus kepada kita supaya kita tetap kuat dalam mengahadapi realita kehidupan ini.
Mungkin saat ini kita sebagai anggota GMKI mengalami apa yang sudah yesus alami di padaang gurun, walaupun kenyataannya tidak seperti yang sudah yesus alami sediri. Tapi dari sana kita belajar menyerahkan seluruh pergumulan kita ke pada Tuhan dan mohon kekuatan kepada Roh Kudus supaya kita diberi kesanggupan menanggung beban yang ada. Karena itu, percayalah bahwa berapa ribu godaan pun yang dilakukan setan tetap tidak akan bisa mengalahkan satu tangan Tuhan yang menariknya naik sebab hanya kepada Tuhan sajalah kita berbakti. Seperti firman Tuhan Pada (Matius 4:10) yesus berkata “Enyalah, iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”
Tuhan tidak tidur dan Ia tahu pergumulan kita, Ia tahu penderitaan kita, Teruslah berdoa, teruslah bina hubungan dengan Tuhan maka apapun masalah kita, Tuhan tahu dan Ia akan dapat menyelesaikan masalah kita sesuai waktu-Nya, Yesus sahabat kita dan Ia memberikan masa depan yang indah, ada renacana yang indah di balik masalah yang kita hadapi. Ketika dalam masalah besar atau kecil, jangan pernah berputus asa saat kita merasa lemah tak berdaya, justru di sanalah tangan Tuhan bekerja menjalankan rencana-Nya yang indah untuk kita. Kiranya Tuhan memberikan jalan keluar untuk masalah kita, pergumulan kita. Amin. Tuhan Yesus memberkati.
Tinggilah Iman Kita
Tinggilah Ilmu Kita
Tinggilah Pengabdian Kita
            Ut Omnes Unum Sint!

Masa Perkenalan dan Penerimaan Anggota Baru GMKI Cabang Yogyakarta 9 Maret 2019


Masa Perkenalan dan Penerimaan Anggota Baru GMKI Cabang Yogyakarta 9 Maret 2019

Oleh:
Urlik Hufum August
(Sekretaris Fungsional Aksi dan Pelayanan BPC GMKI Yogyakarta Masa Bakti 2018-2020)


Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Yogyakarta mengadakan penerimaan anggota baru yang disebut dengan nama Masa Perkenalan dan Penerimaan (MAPPER) hal ini diutarakan Fredik Fatem (Ketua Panitia) saat sambutannya di Wisma Immanuel, Yogyakarta.
Fredik kembali menjelaskan bahwa Mapper di adakan di Wisma Immanuel Yogyakarta. Ada sebanyak 85 orang mendaftar kegiatan, selama kegiatan ada beberapa materi yang di siapkan oleh panitia.
Materi pertama membahas tentang Sejarah dan Visi-Misi GMKI yang dibawakan oleh Christian Apri Wijaya, (Ketua Cabang GMKI Yogyakarta Masa Bakti 2014-2016) di Wisma Immanuel Yogyakarta. Materi kedua membahas tentang Tema Sub Tema GMKI yang dibawakan Senior GMKI Yogyakarta yang dipimpin oleh Pdt. Mathelda Jeanne Tadu, S.Si (teol), (Pendeta Mahasiswa). Materi yang ketiga membahas tentang PA Ut Omnes Unum Sint, yang dibawakan oleh Mike Makahenggang, MAPS (Ketua Bidang Pendidikan Kader dan Kerohanian). Materi yang keempat membahas tentang AD/ART dan Visi Misi GMKI oleh Ketua Cabang GMKI Yohanes Masudede, S.H. Dan materi yang kelima membahas tentang Atribut Organisasi, Pengenalan Struktur BPC dan Program Cabang oleh Sekretaris Cabang Daniel Willy Yokom, S.E., M.Ec.Dev. Selanjutnya membahas tentang Tri Panji dan Panca Kegiatan GMKI yang dibawakan oleh Malfreth Lobo (Pengurus Pusat  GMKI Korwil IV). Malfreth menjelaskan bagaimana GMKI dapat berdiri secara histori, dan beliau yang telah lama mengecap pendidikan di GMKI tidak lupa memaparkan pengalamannya yang dimulai dari tingkatan komisariat, cabang, hingga menjadi pengurus pusat GMKI.
Selanjutnya Badan Pengurus Cabang (BPC) GMKI Yogyakarta melalui Ketua Bidang Organisasi (Leoderik Papuara) menjelaskan tentang Anggaran Dasar GMKI, Anggaran Rumah Tangga GMKI, Peraturan Organisasi GMKI, serta Statuta Cabang GMKI Yogyakarta. Serta para BPC juga menjelaskan atribut-atribut yang digunakan oleh kader GMKI. Sebagai Pedoman yang menjadi arah gerak GMKI bagi kader-kader baru yang sudah dilantik serta mampu memahami nilai-nilai Organisasi.
Yohanes Masudede, S.H. yang membawakan materi AD/ART dan Visi Misi GMKI Kegiatan menjelaskan secara terurai bagaimana kader-kader GMKI hidup dalam 5 panca kegiatannya yaitu, Beribadah, Belajar, Bersaksi, Bersosial, dan Berkreasi. Beliau juga menjelaskan tentang Tri Panji GMKI yaitu Tinggi Iman, Tinggi Ilmu, Tinggi Pengabdian. Serta diakhir, menjelaskan tentang Motto GMKI yaitu Ut Omnes Unum Sint yang kemudian makna dari Motto tersebut diperjelas oleh Leoderik Papuara (Ketua Bidang Organisasi)
Selama kegiatan berlangsung peserta sangat antusias mengikutinya, dengan melihat pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peserta seputar GMKI, mulai dari pelayanan-pelayanan sosial, dan kegiatan-kegiatan pelatihan yang diadakan di GMKI Yogyakarta, tutup Fredik Fatem.
Di tempat yang berbeda, Daniel Willy Yokom menuturkan 42 orang Anggota GMKI Yogyakarta yang baru saja dilahirkan melalui kegiatan Mapper GMKI Yogyakarta harapannya adalah kader-kader yang siap untuk dilatih dan dibina menjadi kader-kader yang militan, serta memiliki profil kader yang berintegritas, profesionalitas, dan spritulitas.
Dengan adanya Masa Perkenalan ini, diharapkan GMKI Cabang Yogyakarta dapat menjadi wadah bagi Anggota untuk dapat berproses dalam kehidupan organisasi terutama menghadirkan shalom Allah dalam medan layan GMKI yaitu Gereja, Perguruan Tinggi, dan Masyarakat.
Ut Omnes Unum Sint

Wednesday, November 7, 2018

Kembalinya Komisariat di GMKI Cabang Yogyakarta


Kembalinya Komisariat di GMKI Cabang Yogyakarta

oleh
Daniel Willy Yokom, S.E.
(Sekretaris Cabang BPC GMKI Yogyakarta Masa Bakti 2018-2020)

Pasang surut kehidupan organisasi Komisariat GMKI Cabang Yogyakarta menjadi tantangan bagi pemangku roda organisasi di tingkat cabang. GMKI Cabang Yogyakarta sebagai salah satu cabang tertua dan terbesar, dari beberapa catatan sejarah menyatakan bahwa telah banyak komisariat-komisariat yang ada pada saat itu. Hingga tahun 1978 terdapat 28 Komisariat yang tersebar di berbagai Perguruan Tinggi di Yogyakarta, mulai dari tingkat universitas hingga fakultas, menjadikan GMKI Cabang Yogyakarta begitu diperhitungkan karena banyak kader-kader dengan segala potensi yang ada turut aktif dalam perkembangan organisasi.
Seiring berjalannya waktu, komisariat mengalami penurunan dan bahkan tidak aktif lagi, menyebabkan perlu diadakannya kembali komisariat yang dulu pernah bersinar. Ini tidak lepas dari adanya Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) pada tahun 1978 membuat kampus menjadi kawasan bebas dari aktivitas politik. Kebijakan ini pun disertai dengan pembubaran organisasi mahasiswa (senat dan dewan mahasiswa) di kampus dengan adanya Badan Koordinasi Kemahasiswaan yang dibentuk tahun 1979 setelah NKK diberlakukan.
Dengan tidak adanya aktivitas di tingkat komisariat serta adanya tuntutan kebutuhan organisasi, maka pada kepengurusan BPC GMKI Yogyakarta Masa Bakti 1992-1994 komisariat mulai dihidupkan kembali dengan menggunakan strategi wilayah perguruan tinggi. Ini dibuktikan dengan adanya Rekomendasi Konperensi Cabang GMKI Yogyakarta Tahun 1994, dimana BPC GMKI Yogyakarta dimandatkan untuk merumuskan dan mempersiapkan rancangan Statuta Cabang yang kemudian di tetapkan dalam Sidang Pleno I BPC GMKI Yogyakarta Masa Bakti 1994-1996. Kemudian pada kepengurusan BPC GMKI Yogyakarta Masa Bakti 1996-1998, komisariat telah berjumlah 6 komisariat, yaitu Komisariat Yohanes, Elia, Daud, Salomo, dan Ayub.
Beberapa tahun komisariat hadir dan berkembang hingga pada kepengurusan BPC GMKI Yogyakarta Masa Bakti 2009-2011, dengan segala permasalahan yang dihadapi saat itu maka Komisariat untuk sementara divakumkan. Kemudian pada kepengurusan selanjutnya ada rencana dan kebutuhan untuk dihidupkan kembali komisariat di GMKI Cabang Yogyakarta. Namun, rencana itu belum dapat dilaksanakan dengan segala kendala yang ada. Hal ini juga sudah menjadi rekomendasi dalam beberapa Konperensi Cabang untuk dibentuknya kembali Komisariat-Komisariat GMKI Cabang Yogyakarta.
Setelah beberapa tahun vakum, BPC GMKI Yogyakarta Masa Bakti 2018-2020 dalam melaksanakan amanat/rekomendasi Konperensi Cabang (Konpercab) XXXIV GMKI Yogyakarta Tahun 2018 telah melakukan kajian untuk dibentuknya komisariat. Dalam Sidang Pleno I (SP 1) dan beberapa pertemuan Rapat Pengurus Lengkap (RPL) telah menghasilkan keputusan untuk membentuk komisariat berdasarkan kedekatan tempat studi (wilayah), sehingga dibentuk beberapa wilayah yang terdapat beberapa universitas. Untuk tahap awal dibentuk satu komisariat, dimana harapannya akan dilanjutkan dengan hadirnya beberapa komisariat lainnya.
Hal ini dilakukan sesuai dengan Statuta Cabang GMKI Yogyakarta pasal 10 tentang Pembentukan Komisariat, dimana komisariat dibentuk di setiap Universitas/Institut/Sekolah Tinggi/Akademi/LPK/Fakultas di Yogyakarta dan/atau berdasarkan kedekatan tempat studi, yang menggunakan nama-nama tokoh dalam Alkitab yang patut diteladani dalam perjalanan kehidupan komisariat. Oleh karena itu, BPC GMKI Yogyakarta Masa Bakti 2018-2020 menggunakan nama “Salomo” untuk digunakan pada komisariat yang akan dibentuk.
Dalam mengikuti proses dan mekanisme yang ada, maka pada tanggal 4 November 2018 telah resmi dibentuk Komisariat Salomo GMKI Cabang Yogyakarta dengan dikeluarkannya Surat Keputusan BPC GMKI Yogyakarta Masa Bakti 2018-2020 Nomor: 340008/SC/INT/K/YKT/XI/2018 tentang Pembentukan Komisariat Salomo GMKI Cabang Yogyakarta. Dimana komisariat ini dibentuk berdasarkan kedekatan tempat studi (wilayah) yang terdiri dari Universitas Janabadra, STIKES Wira Husada, dan Universitas Widya Mataram.
Dengan terbentuknya komisariat yang definitif ini, maka melalui Tim Pembina dan Badan Pengurus “care taker” Komisariat Salomo GMKI Cabang Yogyakarta, akan melaksanakan Musyawarah Komisariat (Muskom) pada tanggal 10 November 2018 di Wisma Immanuel, Samirono Baru 54, Yogyakarta.



Referensi:
1.      Statuta Cabang GMKI Yogyakarta

Monday, October 8, 2018

SERUAN AKSI ALIANSI MAHASISWA PEDULI KEBHINEKAAN

SERUAN AKSI ALIANSI MAHASISWA PEDULI KEBHINEKAAN


Salam Mahasiswa,
Hidup Mahasiswa!

Pada hari Kamis 27 September 2018 pukul 10.00 – 12.00 WIB, Pemerintah Kota Jambi melakukan penyegelan terhadap 3 gereja yang berlokaasi di Jalan Lingkar Barat III Kecamatan Alam Barajo Kota Jambi. Adapun Gereja yang disegel yaitu Gereja Methodist Indonesia Kanaan Jambi, Gereja Sidang Jemaat Allah Simpang Rimbo, dan Huria Kristen Simpang Rimbo. Gereja tersebut disegel berdasarkan hasil rapat KESBANGPOL Kota Jambi, FKUB, Kepolisian, Lembaga Adat Melayu Jambi, MUI, TNI, dan warga sekitar Gereja, maka dilakukan penyegelan oleh Pemerinntah Kota Jambi dalam hal ini Satpol PP di backup aparat Kepolisian dan TNI. Adapunlatar belakang penyegelan Gereja yaitu tentang IMB (izin Mendirikan Bangunan) yang belum dimiliki Gereja dan tuntutan warga RT 07 Kelurahan Kenali Besar Kecamatan Alam Barajo dengan estimasi masa kurang lebih 1000 orang.

Sebelum dilaksanakannya penyegelan , informasi ataupun surat pemberitahuan tidak disampaikan oleh Pemerintah Kota Jambi keada pihak Gereja. Dan pada saat dilaksanakanya penyegelan, surat keputusan tidak diberikan atau tidak dapat ditunjukan oleh Pemerintah Kota Jambi, yang menyebabkan kebingungan dan menuai penolakan dari pihak Gereja. Bahkan sampai sekarang hanya upaya relokasi untuk peribadatan umat  Kristen yang bersifat sementara.

Melihat fenomena di atas, maka kami mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Kebhinekaan Daerah Istimewa Yogyakarta mengajak elemen mahasiswa dan masyarakat untuk ikut andil dalam menjaga keragaman budaya dan agama dengan toleransi dan kesadaran pluralisme demi keutuhan dan kedamaian bangsa dan negara. Dengan dan alasan tersebut kami aliansi organisasi mahasiswa Yogyakarta menyerukan aksi damai dengan pengambilan sikap sebagai berikut :

1. Mengecam tindakan pemerintah Kota Jambi yang melakukan penyegelan terhadap 3 gereja yang telah melanggar amanah konstitusi atau Undang-Undang Dasar 1945 pasal 29 ayat 2 tentang kebebasan memeluk agama dan beribadah sesuai dengan keyakinan masing-masing.
2. Mengecam Pemerintah Kota Jambi yang tidak menjalankan amanah SKB 2 Menteri yaitu SKB Menteri Agama nomor 9 tahun 2006 dan SKB Mendagri nomor 8 tahun 2006 tentang pedoman tugas kepala daerah atau wakil kepala daerah dalam hal kerukunan umat dan rumah ibadah tentang membantu memfasilitasi penertiban IMB untuk rumah ibadah.
3. Menuntut pemerintah untuk merevisi SKB 2 Menteri tentang perizinan pembangunan tempat peribadatan yang dinilai merugikan masyarakat atau golongan minoritas.
4. Mengajak seluruh umat beragama untuk selalu meningkatkan kesadaran toleransi dan pluralisme demi kedamaian dan kesejahteraan bangsa dan negara.
5. Mengajak elemen mahasiswa dan stakeholder hadir untuk melawan sikap intoleran yang menggunakan suara mayoritas untuk menindas minoritas.

Demikian sikap kami untuk solidaritas seluruh umat beragama di Indonesia serta organisasi Mahasiswa dan mengimbau seluruh masyarakat bersama-sama bahu-membahu mendesak pemerintah untuk menjamin dan melindungi hak setiap warga negara sesuai dengan amanah konstitusi.

Hormat Kami,
Aliansi Mahasiswa Peduli Kebhinekaan

Saturday, September 15, 2018

Presiden Jokowi Membuka Kongres Nasional GMKI Dalam Terang Tema GMKI : Pergunakanlah Waktu Dan Tetap Berpengharapan




Presiden RI Jokowi bersama Firman Jaya Daeli (Pembicara/Panelis Kongres GMKI) saat Presiden RI Jokowi Membuka Kongres Nasional GMKI Ke-XXXVI (Ke-36), Jumat, 14 September 2018, di Bogor, Jabar.


Presiden RI Jokowi menyampaikan Pidato Sambutan Pembukaan Kongres Nasional sekaligus Membuka Kongres Nasional, dengan Tuan Rumah Penyelenggara GMKI Cabang Jakarta. Presiden RI Jokowi menyampaikan beberapa pemikiran strategis dan visioner mengenai "Persatuan dan Kerukunan Aset Terbesar Bangsa Hadapi Perubahan".


Presiden RI Jokowi kembali mengingatkan bahwa persatuan dan kerukunan seluruh elemen bangsa merupakan aset terpenting yang dimiliki bangsa Indonesia. Seluruh anak bangsa diharapkan dapat menjaga dan merawat kerukunan di tengah perbedaan yang ada. Indonesia dengan 263 juta penduduk yang tersebar di 17 ribu pulau menjadikannya sebagai sebuah negara besar. Dengan bahasa daerah lebih dari 1.100, tidak ada negara yang perbedaan dan keragamannya seperti negara Indonesia.


Semangat kerukunan dan persaudaraan tanpa disadari sebenarnya sangat terasa dalam perhelatan Asian Games 2018 beberapa waktu lalu. Sebagian besar rakyat Indonesia kompak memberikan dukungan bagi para atlet Indonesia ketika bertanding.


Presiden juga menyebutkan bahwa lompatan kemajuan dan adaptasi perubahan global tersebut hanya dapat diwujudkan bila seluruh elemen bangsa bersatu dan bahu membahu demi kepentingan besar bangsa Indonesia. Presiden mengajak seluruh pihak untuk menjaga kerukunan dan persatuan sekaligus bersiap terhadap tantangan zaman. Presiden mengajak untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan-perubahan itu.


Pengurus Pusat GMKI bersama Panitia Pelaksana mengundang KH. Ma'ruf Amin, Sandiaga Uno, dan Ketua DPD-RI Oesman Sapta Odang yang datang hadir sebelum dan setelah Pembukaan Kongres Nasional. Para Narasumber diundang untuk memberikan pokok-pokok pikiran di sekitar perekonomian dan kebangsaan di dalam Kongres Nasional. Peserta dan peninjau beserta tamu undangan kainnya dihadiri ribuan peserta dan peninjau dari seluruh wilayah dan cabang Indonesia.


Sehari sebelum Presiden RI Jokowi Membuka Kongres Nasional, Firman Jaya Daeli (mantan Komisi Politik Dan Hukum DPR-RI) dan sejumlah Pembicara (Panelis) diundang juga untuk menyampaikan pemikiran sebagai Pembicara (Panelis) di dalam Kongres Nasional GMKI, di Bogor, Kamis, 13 September 2018. Materi pokok pemikiran dan pembahasan dalam Panel Studi Meeting Kongres Nasional adalah "Pergunakanlah Waktu Dan Tetaplah Berpengharapan". Materi pokok ini merupakan Tema Sentral GMKI yang menjadi pengkajian dan pembahasan peserta dan peninjau Kongres Nasional. Tema sentral ini akan menjadi dan selanjutnya merupakan Tema Dasar dan Panduan Pergerakan dan Pelayanan untuk beberapa tahun ke depan. Firman Jaya Daeli diundang untuk menyampaikan pemikiran mengenai Tema dan Sub Tema dari perspektif Politik Dan Hukum.


Dalam acara Pembukaan Kongres Nasional, Jumat, 14 September 2018, terlebih dahulu Ketua Panitia Pelaksana Kongres Dr. A.A. Yewanggoe (Badan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila/BPIP) menyampaikan Sambutan Laporan. Selanjutnya Ketua Umum PP GMKI Sahat Sinurat, ST, MT menyampaikan Kata Sambutan. Kemudian acara Pembukaan Kongres dimaknai dan diakhiri dengan acara puncak yaitu Penyampaian Kata Sambutan oleh Presiden RI Jokowi sekaligus Membuka secara resmi penyelenggaraan Kongres Nasional. GMKI adalah sebuah Ormas Kemahasiswaan Tingkat Nasional yang berdiri tahun 1950, di mana cikal bakal GMKI sudah ada sejak tahun 1932 yang didirikan di Kaliurang, Yogyakarta.