Papan Nama SC GMKI Yogyakarta

Menyambut setiap orang yang datang ^^

Drama Paskah,

Sebuah Kreasi Refleksi Iman

Suasana setelah Diskusi,

SC Masih tetap Ramai

Proses Membasuh Kaki,

Simbol Pelayanan dan Penyambutan kepada Anggota Baru GMKI

Sidang Pleno 1 BPC 2011-2013,

Forum Pembahasan Program Cabang

Pelatihan Appreciative Inquiry,

Melatih untuk Bergerak dengan Aset!

Pelatihan Kemampuan Dasar Berorganisasi,

Bekal Perserta dalam Berorganisasi

Kongres GMKI ke-33 di Manado,

Forum Pembahasan Nasional GMKI

Delegasi Kongres GMKI ke-33 di Manado,

Pejuang dan Penyumbang Pemikiran

Usaha Dana Kaos GMKI,

Kreasi Pengumpulan Dana untuk Kebutuhan Delegasi Kongres ke-33

Kecab Palembang-Kecab Jogja,

Keluarga dalam Tuhan dan GMKI

Berkunjung ke Rumah Senior,

Upaya untuk Menjaga Relasi

Stand Expo Pergerakan di FT UGM

Upaya Pengenalan dan Aksi Pelayanan Perguruan Tinggi

Aksi Tolak Kenaikan Harga BBM,

Bentuk Aksi Pelayanan Masyarakat dari GMKI

Refleksi dan Ziarah Hari Pahlawan,

Upaya Mengenang dan Membangkitkan Semangat Para Pahlawan

Friday, November 4, 2016

Pendalaman Alkitab (Kamis, 3 November 2016)



Kasih dalam Kerukunan*


Surat Paulus kepada Jemaat di Roma (Surat Roma) ditulis oleh Paulus sekitar tahun 57. Surat Roma merupakan Surat Paulus yang paling panjang, paling teologis, dan paling berpengaruh. Sehingga mungkin karena alasan itulah Surat ini diletakkan di depan 13 Surat Paulus yang lain meskipun bukan surat yang ditulis pertama.
Surat Roma ditulis dalam rangka pelayanan rasuli Paulus kepada dunia bukan Yahudi. Surat Roma juga ditulis untuk mempersiapkan jalan bagi pelayanan Paulus di Roma serta pelayanan ke Spanyol.
Surat Roma ditulis Paulus karena Paulus merasa perlu untuk menulis Injil yang telah diberitakannya. Penulisan tersebut untuk menghadapi kabar angin yang diputarbalikkan tentang berita dan ajaran Paulus.
Paulus juga ingin memperbaiki beberapa persoalan yang terjadi di dalam Gereja dan di lingkungan sekitar gereja. Khususnya karena ada perselisihan antar jemaat dan masyarakat.
Melalui surat Roma, Paulus menguraikan kebenaran-kebenaran dasar dari Injil. Dimulai dengan pembahasan hal doktrinal tentang manusia yang berdosa di hadapan Allah, kasih Allah, kemurahan Allah, serta manusia hanya dapat hidup oleh anugerah dan iman. Kemudian di pasal 12-14 Paulus menyatakan bahwa kehidupan yang diubah Kristus mengakibatkan penerapan kebenaran dan kasih pada semua bidang kelakuan (sosial, sipil, dan moral). Atau dengan kata lain, melalui pasal 12-16 Paulus menunjukkan bagaimana menghidupi kehidupan yang telah dilahirbarukan oleh iman di dalam Kristus.
Jika kita mendalami pasal 12 ayat 10-12 dari Surat Roma, kita bisa mendapatkan 3 konsep kasih yang seharusnya kita hidupi di dalam kehidupan. Yakni:
1.  Kasih persaudaraan
Kasih persaudaraan yang dimaksud bukan hanya kasih antara saudara secara genetik atau keluarga kandung. Tetapi secara rohani untuk semua orang.
Kasih persaudaraan juga berarti kasih yang saling melengkapi dan saling memperhatikan. Serta diwujudnyatakan dengan saling memberi hormat lebih daripada menghormati diri sendiri.

2.  Kasih yang berkobar-kobar
Kasih yang berkobar-kobar yang dimaksud adalah kasih yang tidak malas. Karena kasih sejati bukanlah yang dingin, kaku, dan statis. Tapi kasih yang “membakar”.
Kasih yang “membakar” adalah kasih yang disertai dengan semangat mengasihi dan semangat sukacita untuk melayani.

3.  Kasih yang berpengharapan
Kasih yang berpengharapan adalah kasih yang menantikan sukacita pengharapan, sabar dalam kesesakan/tantangan, dan bertekun di dalam doa.
Bertekun di dalam doa menjadi sarana memusatkan perhatian pada apa yang Tuhan kehendaki. Kemudian mewujudnyatakan kasih itu.
Dalam bertekun dalam doa, kita tidak boleh terjebak dengan salah konsep tentang doa sebagai alat melepaskan masalah dan doa yang memaksa Tuhan.


Dengan menghayati 3 konsep kasih tersebut, 3 konsep kasih tersebut bisa kita pahami sebagai inti atau jiwa dari kerukunan dan kerukunan lintas SARA. Berbicara tentang kerukunan lintas SARA, kita harus lebih dahulu melihat diri kita sendiri dan gereja. Apakah diri kita sendiri sudah atau mau mewujudkan kerjasama dan kerukunan dengan semua orang? Apakah gereja masih saling memecah belah, saling berselisih, dan saling menjatuhkan? Atau gereja sudah dan mau mewujudkan kerukunan gereja?
Kemudian dalam konteks kekinian, ada 2 pertanyaan penting yang perlu didalami. Yakni: apa yang menjadi faktor penyebab terjadinya perselisihan antar umat beragama serta bagaimana peran pemuda dan mahasiswa Kristen untuk menciptakan terjadinya kerukunan.
Seringkali yang menjadi permasalahan dalam kerukunan adalah menjadikan agama sebagai batu sandungan. Sehingga timbul pertanyaan mengapa radikalisme sering berkaitan dengan agama.
Sikap egois termasuk sikap merasa agama sendiri paling benar dan adanya pemahaman agama yang kurang benar pun bisa menyebabkan perselisihan antar orang.
Media sebagai saluran informasi dan komunikasi juga cukup banyak mempengaruhi kondisi kerukunan antar masyarakat.
Sebagai warga gereja, pemuda dan mahasiswa Kristen seharusnya bisa bersatu dulu. Serta menularkan semangat dan praktek bersatu tersebut dalam hidup.
Semangat oikumene yang bertujuan menjadikan bumi atau dunia menjadi rumah bersama yang nyaman seharusnya mampu dihayati maknanya dan dipraktekkan. Contohnya adalah mengaitkan oikumene dengan Pancasila.
Jika kita kembali membaca pasal 12 ayat 9-21 dari surat Roma, Paulus mengajak kita untuk menghidupi dan merefleksikan kasih di tengah berbagai tantangan perdamaian.
Saling tegur sapa dan bersosialisasi dengan siapapun bisa menjadi praktek menghadirkan kasih. Apalagi di era digital saat ini, banyak dari kita yang lebih berfokus pada diri sendiri.
Setiap kita juga bisa meneladani Paulus yang memberitakan kabar baik dari satu daerah ke daerah lain melalui media dan metode komunikasinya. Kabar baik tersebut mencakup kebenaran dan kasih.
Meskipun menghadapi berbagai macam tantangan dan harus ada pengorbanan; setiap kita ditantang untuk menghidupi kasih yang mengampuni, sabar, tidak mudah terpancing dan terpengaruh, serta mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.
Mari berdamai dengan semua orang!
Mari berdamai dengan semua ciptaan!
Mari menghidupi kasih dalam kerukunan!`



* Tulisan ini merupakan rangkuman hasil diskusi dalam Ibadah Pendalaman Alkitab (PA) GMKI Cabang Yogyakarta tanggal 3 November 2016. Bertempat di Student Centre, Wisma Immanuel, Samirono Baru 54, Yogyakarta.
Firman Tuhan dan pengantar diskusi disampaikan oleh Christian Apri Wijaya. 

Thursday, November 3, 2016

Pernyataan Sikap PP GMKI Menyoal Rencana Aksi Tanggal 4 November 2016


  1. Demonstrasi adalah bentuk pernyataan aspirasi yang merupakan hak warga negara dan dijamin oleh konstitusi. Sehingga demonstran bebas menyampaikan pendapat di muka umum dengan tetap menjaga hak-hak orang lain dan tidak terprovokasi.
  2. Persoalan hukum diselesaikan dengan segera tanpa terpengaruh tekanan dari siapapun, baik pemerintah, masyarakat, maupun kelompok yang berkepentingan.
  3. Meminta Presiden sebagai Panglima tertinggi untuk segera melakukan inspeksi pasukan, senjata, alutsista, dan amunisi, agar tercipta suasana yang kondusif.
  4. Panglima TNI dan Kapolri harus segera melakukan pemantauan penuh terhadap setiap perwira tinggi dan satuan intelijen di tubuh masing-masing.
  5. Meminta Presiden sebagai Kepala Negara sekaligus Kepala Pemerintahan segera memberlakukan status siaga penuh terhadap pusat transaksi keuangan yang terjadi mulai dari 14 hari sebelum tanggal tanggal 14 Oktober 2016 hingga 14 hari setelah 4 November 2016 (baik tunai dan non tunai).
  6. Sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, Presiden mempunyai tanggung jawab untuk membeberkan ke masyarakat apabila terjadi keanehan transaksi pada periodik tersebut.
  7. Meminta kepada Presiden untuk memerintahkan Komnas HAM agar segera membuka laporan kerusuhan dan pelanggaran HAM pada kurun waktu 1997- 2002 kepada masyarakat Indonesia agar tidak terulang kembali konflik yang serupa.
  8. Meminta Presiden Joko Widodo untuk menghimbau masyarakat agar tidak terprovokasi akan adanya kerusuhan SARA,Radikalisme, dan Separatis sehingga menimbulkan keresahan sosial.
  9. Meminta Presiden untuk segera melakukan Rapat Kabinet Paripurna pada tanggal 4 November, serta tidak mengizinkan satupun anggota Kabinet untuk tidak hadir mulai dari Wakil Presiden, Menteri hingga kepala badan penyelenggara negara.

Demikian Nawa Sukarsa ini disampaikan PP GMKI untuk dapat dilakukan sebagai wujud niatan baik untuk menjaga keutuhan bangsa dan negara.***

Tuesday, November 1, 2016

Pesan Pastoral PGI untuk Pilkada Serentak 2017

Pesan Pastoral PGI untuk Pilkada Serentak 2017:

“Kebenaran Meninggikan Derajat Bangsa”

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Pada 15 Februari 2017 kembali bangsa kita akan melaksanakan hajatan demokrasi yang penting dalam perjalanan bernegara kita, yakni pemilihan kepala daerah, di 101 daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). Menyadari tugas panggilan gereja yaitu --bersama semua orang yang berkehendak baik-- ikut serta membangun masyarakat berkeadaban, PGI merasa perlu untuk menerbitkan Pesan Pastoral, terkait Pilkada ini. Kami harap Pesan Pastoral ini bisa menjadi pedoman bagi gereja-gereja di Indonesia dalam menentukan sikap etis terhadap Pilkada serentak ini.

Antara Kebenaran dan Dosa
Pilkada ini memperhadapkan kita pada pilihan-pilihan yang seringkali sulit. Pilihan apa pun yang akan kita ambil memiliki konsekuensi yang tidak kecil bagi kehidupan kita bersama sebagai bangsa dan negara. Meskipun demikian, kita harus tetap menentukan sikap yang tepat agar proses demokrasi bangsa kita semakin kokoh. Partisipasi dan pilihan Saudara sangat menentukan gerak langkah demokrasi kita kini dan mendatang.
Dalam konteks ini, kami mengajak saudara menyimak Firman Tuhan yang mengatakan: “Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa” (Amsal 14:34).
Firman Tuhan ini, mengajak kita untuk dengan tegas menolak kuasa dosa yang hendak menodai bangsa kita. Dosa bisa berwujud ketidakjujuran, diskriminasi, nafsu pada kekuasaan, manipulasi suara, politik uang, pola-pola kampanye yang menggunakan isu SARA yang berpotensi memecah-belah persaudaraan kita sebagai bangsa Indonesia. Dalam iman dan kesetiaan kita pada Yesus Kristus, kita harus menolak dosa itu dengan tegas!
Kita semua diajak untuk mengutamakan nilai-nilai kebenaran, keadilan dan kesetaraan, yang didasari spirit gotong-royong sehingga menciptakan perdamaian dan kegembiraan, saat Pilkada, maupun setelah Pilkada berlangsung. Hanya dengan demikian kita bisa mewujudkan kehormatan dan kebanggaan kita sebagai bangsa yang bermartabat.
Bertolak dari pemahaman tersebut, maka PGI menyerukan beberapa hal sebagai berikut:
1. Kepada Gereja-Gereja:
  • Gereja tidak boleh terjebak dalam ‘dosa’ menghalalkan segala cara demi nafsu kekuasaan, termasuk terjebak dalam pendekatan sektarian, atas nama agama, suku dan ras, yang bisa memecah-belah kita sebagai bangsa.
  • Hindari penggunaan gedung gereja atau rumah ibadah sebagai ajang kampanye, atau menggunakan mimbar gereja untuk menggalang dukungan bagi para calon.
  • Gereja terpanggil untuk berpartisipasi dan bekerjasama dengan siapa pun dalam mengawasi jalannya Pilkada, pun paska Pilkada. Artinya gereja berkewajiban mengingatkan umat untuk mengawasi kebijakan-kebijakan politik pemimpin yang terpilih agar berjalan sesuai dengan konstitusi demi keadilan, kesejahteraan dan perdamaian bangsa.
  • Tanggung jawab politik gereja adalah dengan melakukan pendidikan politik warga gereja agar mereka mampu menggunakan hak pilih mereka secara rasional dan bertanggungjawab demi kebaikan bersama, serta bersikap kritis dan berani menolak politik uang, sebagai perwujudan iman Kristiani kita dalam berbangsa.
2. Kepada Seluruh Warga Gereja:
  • Dalam Pilkada nanti, pilihlah calon pemimpin yang memiliki: integritas, kejujuran, keberanian dan komitmen melawan segala bentuk korupsi dan manipulasi, komitmen pada konstitusi dan keanekaragaman bangsa, kemauan bekerja keras untuk menciptakan keadilan dan kesetaraan bagi seluruh warga negara, serta komitmen untuk menopang pembangunan yang berwawasan lingkungan.
  • Tolaklah calon pemimpin yang memanipulasi isu-isu SARA, diskriminasi berbasis gender dan kampanye gelap yang menyudutkan pasangan calon tertentu.
3. Kepada para Pasangan Calon:
  • Kami mengapresiasi keikutsertaan Saudara dalam kontestasi Pilkada ini. Kami percaya pencalonan Saudara adalah wujud keterpanggilan membangun proses demokrasi dan keadilan bagi bangsa.
  • Kami mengharapkan komitmen Saudara untuk memperjuangkan kepentingan rakyat terutama mereka yang miskin, yang mengalami diskriminasi dan termarjinalkan. Hendaklah Saudara bersikap jujur, menjauhkan diri dari suap maupun dari penggunaan dana-dana Pemerintah (seperti dana bantuan sosial yang seharusnya digunakan untuk menyejahterakan rakyat) untuk kepentingan kampanye.
  • Kualitas kenegarawanan Saudara akan terlihat dalam cara Saudara bertindak dan berkampanye. Oleh karena itu, jangan menghalalkan cara-cara yang melanggar hukum atau memanipulasi isu gender, SARA yang bersifat sektarian dan primordial sempit demi kekuasaan.
  • Saat Pilkada usai, kami berharap Saudara mampu berjiwa besar, terutama saat menerima hasil Pilkada demi menjaga ketertiban, perdamaian dan ketentraman masyarakat.
4. Kepada Partai Politik:
Partai Politik merupakan unsur penting dalam membangun kultur dan struktur demokrasi bangsa kita. Partai politik diharapkan mampu mempersiapkan kader-kader bangsa yang bukan terutama memperjuangkan kepentingan partai politik atau kepentingan primordialistik etnik atau agama. Sebaliknya, Partai Politik berfungsi mempersiapkan kader-kader bangsa yang memiliki integritas, kapasitas, kejujuran dan berkomitmen pada tegaknya konstitusi. Oleh karena itu, Partai Politik mestinya tidak terjebak pada pragamatisme sesaat yang memperjuangkan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara, termasuk politik uang dan politisasi SARA.

5. Kepada Penyelenggara Pilkada:
Kepada penyelenggara Pilkada yakni KPU, Bawaslu/Panwas, kami berdoa dan berharap, semoga Saudara mampu melaksanakan mandat secara profesional dan bertanggung jawab, jujur, adil, transparan dan tidak memihak. Masa depan demokrasi kita bergantung pada integritas dan kejujuran Saudara.

6. Kepada Aparat Keamanan:
Sebagai komponen utama dalam proses demokratisasi Indonesia, kami mendoakan agar aparat keamanan mampu melakukan tugas dan tanggung jawabnya dengan tulus, baik dan professional, sehingga Pilkada dapat berjalan dalam suasana yang kondusif, aman dan tenteram bagi seluruh warga dalam menggunakan hak pilihnya.

Semoga Allah, Pencipta dan Pelantan Kehidupan, menaungi upaya baik kita semua sehingga pesta demokrasi Indonesia ini bisa dinikmati dalam kegembiraan. Kiranya hikmat dan kebijaksanaan Kristus Yesus, Tuhan kita, yang melampaui segala pemahaman, dan penyertaan Roh Kudus, memberi kita keteguhan untuk memilih kehidupan!*

*Disalin sesuai dengan Aslinya


Monday, October 31, 2016

Pernyataan Sikap Kelompok Cipayung Yogyakarta (Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2016)



CIPAYUNG YOGYAKARTA

GOTONG ROYONG KEPEMUDAAN


Gotong royong sebagai salah satu falsafah kehidupan sosial di Indonesia merupakan spirit utama dalam setiap penyelenggaraan kehidupan negara. Melunturnya nilai gotong royong akan berdampak pada ketimpangan pengamalan nilai- nilai luhur bangsa. Singkatnya, gotong royong merupakan warisan budaya yang menjadi harga mati untuk dipertahankan dan diperjuangkan dalam usaha menjalin tali kesatuan bangsa.
Tidak dapat dipungkiri, dimasa sekarang, frasa gotong royong kian tergerus perubahan peradaban yang dilatari oleh banyak hal. Untuk itu, aliansi CIPAYUNG (GMNI, PMII, HMI, GMKI, PMKRI) Yogyakarta mencoba memperingati momentum sumpah pemuda dalam dimensi pendidikan, kesatuan bangsa, serta budaya di Indonesia.
Pertama, di bidang pendidikan. Pendidikan hari ini diyakini bukan hanya sebagai transfer of knowledge tetapi juga transfer of value. Pendidikan sebagai media kecerdasan bangsa mengalami sistemisasi yang miskonsep dari tujuan awalnya. Pendidikan belum menjadi alat perjuangan dan pembebasan akan kebodohan manusia serta alat untuk memerdekakan manusia namun pendidikan hari ini cenderung bersifat pragmatis. Malahan sistem pendidikan Indonesia menunjukkan trend negatif dengan adanya peningkatan pengangguran berpredikat sarjana dari 5,34% pada 2015 menjadi 6,22% pada tahun 2016 (BPS 2016).
Kedua, CIPAYUNG Yogyakarta juga mengecam tindakan pelanggaran terhadap kebebasan beragama. Jumlah pengaduan akan dugaan pelanggaran kebebasan beragama mengalami trend buruk dari 74 pengaduan pada tahun 2014 tercatat, meninggkat menjadi 89 pengaduan pada 2015; dan 34 pengaduan per Juni 2016. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap pluralitas keagamaan dalam dimensi keberagaman masih rendah. Teologi Kemanusiaan Kautsar Ansari Noer mengatakan bahwa “Jangan coba-coba berani hidup di dunia, jika tidak sanggup bersentuhan dengan perbedaan, sebab perbedaan adalah syarat dunia ini” (Kautsar Ansari Noer, 2001).
Ketiga, dalam menanggapi isu regional, CIPAYUNG Yogyakarta menilik permasalahan lingkungan dan segala bentuk konservasi ekologis sebagai bentuk penggerusan budaya dan tatanan sosial Yogyakarta. Upaya moratorium pembangunan hotel yang dikeluarkan Pemkot Yogyakarta masih merupakan kebijakan setengah hati. Moratorium yang awalnya berakhir pada akhir tahun 2016 masih diperpanjang sampai akhir tahun 2017 melalui Peraturan Wali Kota (Perwalkot) Yogyakarta Nomor 55 Tahun 2016, menggantikan Perwalkot No. 77/2013. Uniknya, perpanjangan masa moratorium ini didasarkan pada okupansi hotel. Hal ini menyiratkan bahwa Pemkot Yogyakarta masih terjebak dalam logika profit sebagai faktor pendorong pembangunan. Padahal, Kota Yogyakarta secara nyata sudah tidak mampu menampung pembangunan hotel lagi. Branding renaissance Yogyakarta yang diusung dalam RPJMD DIY Tahun 2012-2017 dalam penerapannya masih jauh dari visi pembangunan Yogyakarta dengan cita Hamemayu Hayuning Bawono (Mempercantik alam yang sudah cantik).
Berhadapan dengan sekelumit persoalan yang ada, CIPAYUNG Yogyakarta mengajak segenap pemuda dan rakyat Indonesia untuk kembali merefleksikan nilai-nilai luhur kebangsaan sebagai bagian yang pelahan tergerus oleh beragam problema yang ada.
Untuk itu, demi cita-cita mulia para pendahulu yang termaktub dalam Sumpah Pemuda, kami Cipayung Yogyakarta menuntut:
  1. Menolak segala bentuk komersialisasi pendidikan
  2. Menjunjung tinggi keutuhan bangsa dan pluralitas agama sebagai daya rekat kesatuan
  3. Mengawal Renaissance Yogyakarta
  4. Mendorong pendidikan yang berkebudayaan kritis dan transformatif

Tuesday, February 3, 2015

Siapkah Melayani sebagai Hamba?

Dalam Injil Lukas 17:7-10, kita bisa menghayati perumpamaan seorang hamba yang bekerja pada seorang tuan. Tuan tersebut mempunyai ladang dan ternak.


Dalam ayat 10, Tuhan Yesus mengingatkan para murid dalam menjalankan tugasnya untuk tidak mengharapkan imbalan dari pelayanannya. Mereka harus mengingat bahwa mereka melakukan apa yang harus dilakukan (tanggung jawab mereka).


Pelayanan yang identik dengan pengabdian juga harus dijalani dengan ikhlas. Supaya menghindari sikap seperti orang Farisi yang berpikiran bahwa pelayanan berbanding lurus dengan pahala yang mereka terima.


Melalui perumpamaan dalam perikop tersebut, Yesus juga mengajarkan agar tidak kuatir. Allah adalah Tuhan yang baik. Ia akan membalas menurut kehendak-Nya.


Saat ini, konsep pelayanan yang menghayati hati hamba seolah menjadi hal yang paling dicari. Mengapa?


Dogma teologi kemakmuran yang sempit menjadi marak saat ini. Dimana singkatnya dogma ini menganjurkan orang untuk lebih sering melayani dan memberi agar diberkati dengan berlimpah. Finansial dan kekayaan menjadi tolak ukurnya.


Dalam gereja, sering terjadi perpecahan. Benarkah itu adalah pertambahan variasi penafsiran atau perpecahan gereja terkait dengan finansial?


Ada kasus jemaat membuat gereja sendiri karena pelayan Tuhan di gereja asalnya tidak mau melayani maksimal. Pelayan Tuhan tersebut melakukan pelayanan dengan melihat ekonomi jemaatnya. Ia lebih peduli dan lebih melayani orang yang kaya.


Hal tersebut membawa kita pada penghayatan bahwa menjadi orang yang rendah hati dan tulus itu tidak mudah. Tapi kita hendaknya menjadi orang yang rendah hati. Meskipun kita sudah berjasa banyak dan tidak mendapat penghargaan.


Jika kita mengingat kisah Yunus, ia berusaha meninggalkan tanggung jawab pelayanan yang diberikan Tuhan. Sehingga kemudian ia dihukum oleh Tuhan agar berbalik menjalankan tanggung jawab pelayanannya.


Dari kisah Yunus tersebut, kita bisa menghayati bahwa tanggung jawab dari Tuhan itu penting dan berharga. Termasuk pelayanan kita dimanapun kita berada atau ditempatkan.


Kita harus menjalani pelayanan sebagai ungkapan terima kasih atas berkat Tuhan dalam hidup kita. Pelayanan yang memaksimalkan talenta kita juga merupakan ungkapan terima kasih kita kepada Tuhan. Serta menjadi usaha untuk menghayati jati diri kita sebagai manusia dan menjadi berguna sebagai manusia.


Dalam berpelayanan dan pekerjaan, kita harus keluar dari kotak pemikiran sebagai budak. Kita harus mengembangkan kreativitas dan keseimbangan.


Dalam berpelayanan, kita juga jangan membedakan antara rohani dengan duniawi. Dunia adalah pelayanan kita juga. Seperti sering kita sebut dengan Tiga Medan Layan GMKI (Gereja, Perguruan Tinggi, dan Masyarakat).


Akhirnya, siapkah kita melayani sebagai hamba yang rendah hati dan menghayati hidupnya?


Kiranya kita tetap berhikmat, profesional, dan totalitas dalam melayani. Seperti kata Antonio de Milo: “Seorang penyapu sungguh-sungguh menyapu seperti pelukis yang melukis dengan indah”.






--------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan ini merupakan hasil diskusi dalam Ibadah Pendalaman Alkitab (PA) Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Cabang Yogyakarta 22 Januari 2015. Di Student Centre GMKI Cabang Yogyakarta, Wisma Immanuel, Samirono Baru 54, Yogyakarta.

Saudara Leoderik Papuara (Sekfung Infokom, BPC GMKI Yogyakarta MB. 2014-2016) sebagai pelayan Firman Tuhan. Saudara Herman Ngkaia (Sekfung Akspel, BPC GMKI Yogyakarta MB. 2014-2016) sebagai pembawa acara.

Saturday, January 24, 2015

Resolusiku

Dalam kehidupan, ada orang yang merasa waktu berjalan cepat. Tapi ada juga yang merasa waktu berjalan lama.

Dalam kehidupan kita yang panjang, kita sering diajak untuk mendalami bagaimana kita menjalani hidup kita, sudah seperti apa hidup kita rencanakan, dan bagaimana realitas hidup kita hari ini.

Dalam menjalani tahun yang baru, kita sering diajak untuk membuat resolusi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Resolusi adalah putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat. Resolusi juga asalah pernyataan tertulis, biasanya berupa tuntutan tentang suatu hal.

Sedangkan di Wikipedia, Resolusi tahun baru adalah tradisi sekuler yang umumnya berlaku di dunia barat dimana seseorang berjanji akan melakukan tindakan atau sebuah komitmen untuk melakukan tindakan perbaikan diri yang dimulai tahun yang baru. Contohnya adalah lulus studi, menyelesaikan proses pelayanan, dan belajar banyak tentang konseling.

Resolusi bisa dikaitkan dengan Visi, Misi, dan Usaha. Banyak hal yang dilakukan untuk mencapai resolusi. Tapi banyak hal juga yang bisa menyebabkan resolusi itu gagal dicapai.

Secara singkat, ada 4 hal yang bisa menjadi penyebab resolusi gagal dicapai. Yakni:
1.  Resolusi terlalu besar dan terlalu sulit dijangkau
2.  Resolusi tidak dijalankan dengan tekad
3.  Tidak ada kontrol dan pengingat
4.  Kita terkadang merasa bisa melakukan sendiri tanpa tuntunan Tuhan.

Terkait resolusi dan kehidupan manusia, kita bisa belajar dari kitab Mazmur 90:1-17. Mazmur ratapan tersebut merupakan doa Musa yang dinyanyikan.

Musa adalah seorang tokoh besar yang membawa keluar umat Israel dari tanah Mesir. Ibunya bernama Yokhebed. Sedangkan bapaknya bernama Amran.

Perjuangan Musa sangat panjang. Tapi Allah selalu menopang dan menguatkan Musa.

Dalam Mazmur 90:1-17, kita melihat beberapa bagian Mazmur. Ayat 1-2 menjelaskan Musa mencoba melihat dan menyaksikan Allah adalah Penciptanya. Seringkah kita menyadari Allah yang menciptakan?

Ayat 3-6 Musa menjelaskan kekuatan Tuhan yang luar biasa dibandingkan kekuatan manusia. Kehidupan manusia juga singkat seperti di giliran jaga di waktu malam.

Dalam budaya Yunani, ada 4 kali giliran jaga di waktu malam. Sedangkan dalam budaya Ibrani, ada 3 kali giliran jaga malam. Padahal waktu jaga malam itu berlangsung selama jam 6 sore sampai 6 pagi. Sehingga giliran jaga di waktu malam itu sangat singkat.

Hal yang menarik adalah di dalam ayat 7-10. Kita bisa menghayati bahwa masa hidup manusia dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan. Hidup ini tak selalu seperti kita rencanakan.

Kehidupan yang kita jalani juga perlu kita maknai. Karena hidup yang tidak dimaknai adalah hidup yang tidak patut dijalani.

Dalam ayat 12-17, kita bisa melihat Allah mengajari umat Israel memahami  keberadaan di hadapan Allah. Bagaimana kita di hadapan Allah?

Di balik kelemahan kita, kita sering menyadari ada kekuatan Tuhan yang menyertai kita. Kita mengalami rahmat Allah.

Resolusi atau rencana yang kita buat akan gagal jika kita tidak melibatkan Allah dalam perencanaan. Resolusi juga akan gagal jika kita menyadari keberadaan kita di hadapan Allah dan jika kita tidak menyadari diri kita.

Saat ini, apakah kita sudah sungguh-sungguh mengenali diri kita? Apakah kita menyadari Allah yang memberi rahmat kepada kita? Kedamaian kita bisa kita alami jika kita merasakan Allah yang Mengampuni diri kita.

Resolusi yang kita bangun adalah belajar dari pengalaman, dari kesalahan, dan dari kehidupan yang telah kita jalani. Injil Yohanes mengatakan: Jika kita tidak dekat dengan Allah, kita tidak bisa berbuah apa-apa. Apakah kita merasakan kedekatan dengan Allah?

Rahmat Allah akan membuat kita sukses mewujudkan resolusi yang kita rencanakan bersama Allah.





------------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan ini merupakan hasil diskusi dalam Ibadah Pendalaman Alkitab (PA) GMKI Cabang Yogyakarta. Pada hari Kamis, 15 Januari 2015. Saudara Lamhot Augustinus Sihaloho sebagai pelayan Firman Tuhan. Dan saudara Leoderik Papuara sebagai pembawa acara.

Friday, September 5, 2014

Waspada untuk Berbuah

Pada masa kini, banyak kegiatan kerohanian yang seolah-olah penggembalaan. Tapi sebenarnya dengan modus untuk mendapat dana atau uang semata. Banyak fasilitas, orang, atau kelompok yang mengatasnamakan pelayanan. Tapi ternyata tujuannya hanya untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan kelompoknya (segelintir orang saja).


Belakangan marak kita jumpai/dengar orang-orang menganggap dirinya seorang nabi, penuntun, atau pengajar yang benar. Sehingga kemudian timbul pertanyaan yang skeptis. Bagaimana kemurnian pelayanan sekarang ini? Apakah kita dan mereka bermanfaat baik bagi orang lain?


Dalam Injil Matius 7:15-23, Tuhan Yesus mengingatkan untuk waspada terhadap nabi-nabi palsu dan ajaran-ajaran palsu. Tuhan Yesus juga memberitahukan pertanda untuk mengenali mereka.


Injil Matius adalah salah satu Injil Sinoptik. Menurut tradisi gereja, Injil Matius ditulis oleh Matius, sang pemungut cukai, yang kita ketahui sebagai salah satu murid Tuhan Yesus.


Injil Matius adalah Injil Messianik yang menunjukkan bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias yang telah dijanjikan Tuhan. Sehingga kalau kita cermati, Injil Matius didominasi oleh penggenapan nubuat-nubuat dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Dan itulah yang menjadi keunikan Injil Matius dibanding Injil Sinoptik lainnya.


Perikop Matius 7:15-23 tersebut merupakan salah satu bagian dari Khotbah Tuhan Yesus di Bukit. Khotbah di Bukit merupakan pengajaran dan pelayanan awal Tuhan Yesus.


Pelayanan awal Tuhan Yesus tersebut dilakukan-Nya setelah Ia melalui 40 hari 40 malam berpuasa di padang gurun dan pencobaan Iblis. Tuhan Yesus ditempa.


Selanjutnya, dalam mewaspadai nabi-nabi palsu dan ajaran-ajaran palsu, Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk menyimak, melihat, dan memperhatikan buah-buah yang dihasilkan. Hal ini bisa kita lihat dalam ayat 16-18.


Ada aktivitas nabi-nabi palsu yang kelihatannya baik dari luar tapi tidak menghasilkan buah yang lahir. Mengatasnamakan Tuhan tapi pelayanannya tidak berbuah baik bagi sesama/orang lain.


Dalam ayat 23, Tuhan Yesus kembali menegaskan bahwa bukan orang yang memanggil “Tuhan,Tuhan” yang diselamatkan. Tapi mereka yang melakukan kehendak Tuhan. Karena hal yang esensial dari iman kita adalah disertai dengan perbuatan/tindakan.


Kita hendaknya jangan lalai melakukan tugas pokok/inti kita. Iman kita harus mewujudnyata dalam tindakan/perbuatan kita.


Kewaspadaan hendaknya senantiasa menyertai perjalanan kehidupan kita. Karena kalau kita tidak waspada, bisa jadi kita terjebak juga menjadi seperti nabi-nabi dan pengajar-pengajar palsu.


Kita harus tetap menjaga diri kita sebagai pohon yang baik dan menghasilkan buah baik di tiga medan layan kita. Kita perlu selalu mempertanyakan: Apakah suara kita lebih penting dari tindakan kita?


Melihat kehidupan Tuhan Yesus, kita bisa melihat bagaimana Tuhan Yesus ditempa/dikader dan menempa/mengkader dirinya sendiri. Kemudian Tuhan Yesus melakukan pelayanan dan pengabdian. Hal tersebut sejalan dengan Tri Panji GMKI (Tinggi Iman, Tinggi Ilmu, dan Tinggi Pengabdian).


Di tengah kehidupan, kita hendaknya mengenali diri kita serta menghayati iman dan ilmu kita. Kemudian kita bergerak dengan aset dan kemampuan kita masing-masing.


Akhirnya, marilah kita terus waspada dan berbuah! 








---------------------------------------------------------------------------------------- 
Tulisan ini merupakan hasil diskusi dalam Ibadah Pendalaman Alkitab (PA) GMKI Cabang Yogyakarta tanggal 4 September 2014. Di Student Centre (SC) GMKI Cabang Yogyakarta, Samirono Baru 54, Yogyakarta.
Robert Umbu Rangu (Ketua Bidang Organisasi, BPC GMKI Yogyakarta Masa Bakti 2014-2016) sebagai pelayan Firman Tuhan.