Papan Nama SC GMKI Yogyakarta

Menyambut setiap orang yang datang ^^

Drama Paskah,

Sebuah Kreasi Refleksi Iman

Suasana setelah Diskusi,

SC Masih tetap Ramai

Proses Membasuh Kaki,

Simbol Pelayanan dan Penyambutan kepada Anggota Baru GMKI

Sidang Pleno 1 BPC 2011-2013,

Forum Pembahasan Program Cabang

Pelatihan Appreciative Inquiry,

Melatih untuk Bergerak dengan Aset!

Pelatihan Kemampuan Dasar Berorganisasi,

Bekal Perserta dalam Berorganisasi

Kongres GMKI ke-33 di Manado,

Forum Pembahasan Nasional GMKI

Delegasi Kongres GMKI ke-33 di Manado,

Pejuang dan Penyumbang Pemikiran

Usaha Dana Kaos GMKI,

Kreasi Pengumpulan Dana untuk Kebutuhan Delegasi Kongres ke-33

Kecab Palembang-Kecab Jogja,

Keluarga dalam Tuhan dan GMKI

Berkunjung ke Rumah Senior,

Upaya untuk Menjaga Relasi

Stand Expo Pergerakan di FT UGM

Upaya Pengenalan dan Aksi Pelayanan Perguruan Tinggi

Aksi Tolak Kenaikan Harga BBM,

Bentuk Aksi Pelayanan Masyarakat dari GMKI

Refleksi dan Ziarah Hari Pahlawan,

Upaya Mengenang dan Membangkitkan Semangat Para Pahlawan

Monday, February 12, 2018

Usut Tuntas Tindakan Teror di Gereja Katolik Santa Lidwina!


          Kebebasan beragama dan berkeyakinan/berkepercayaan di Indonesia, khususnya beribadat menurut agama dan kepercayaannya, telah dijamin oleh Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945). Sebagaimana tertulis dalam Pasal 28E ayat 1, Pasal 28I ayat 1, dan Pasal 29 ayat 2. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) dan Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik (ICCPR) yang telah diratifikasi Negara Indonesia pun menjamin kebebasan beragama, berkepercayaan, dan beribadat sesuai agama/kepercayaannya.
          Namun kenyataan yang terjadi tak selamanya sesuai dengan harapannya. Pada 11 Februari 2018 sekitar pukul 07.35 WIB, telah terjadi sebuah tindakan teror yang mengganggu keamanan kebebasan beragama dan beribadat di Gereja Katolik Santa Lidwina, Gamping, Trihanggo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tindakan teror tersebut dilakukan oleh Suliyono (22) dengan melakukan pembacokan kepada seorang Pastur (Romo Karl Edmund Prier), tiga orang jemaat, dan seorang polisi saat perayaan Ekaristi berlangsung.
            Pelaku memulai tindakannya dari pintu pagar depan dengan membacok seorang jemaat gereja. Hal tersebut membuat jemaat di halaman depan gereja berhamburan menyelamatkan diri. Kemudian pelaku masuk ke dalam gedung gereja sampai altar untuk melanjutkan pembacokan dan menghancurkan 2 patung altar. Serta akhirnya berhasil diamankan oleh aparat kepolisian dengan tembakan peluru setelah 15 menit di altar.
            Menanggapi tindakan teror yang terjadi di Gereja Katolik Santa Lidwina, BPC GMKI Yogyakarta bersama beberapa Anggota langsung menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk melihat langsung kondisi Jemaat Gereja Katolik Santa Lidwina. Atas nama Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Yogyakarta, Ketua BPC GMKI Yogyakarta Alhendri Fara menyesali dan mengecam tindakan teror yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Selanjutnya dengan ini, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Yogyakarta menyatakan sikap:
1.    Menyesalkan tindakan teror di Gereja Katolik Santa Lidwina yang telah mengganggu kebebasan beragama dan beribadat.
2.    Menuntut aparat keamanan khususnya Kepolisian untuk mengusut tuntas tindakan teror dan pelaku teror di Gereja Katolik Santa Lidwina.
3.    Menuntut pemerintah dan Negara Indonesia untuk hadir dan bertanggungjawab dalam upaya-upaya menjamin, melindungi, serta menegakkan hukum dan hak asasi manusia.

4.    Mengingatkan masyarakat Indonesia untuk tidak mudah terprovokasi dan terpecah belah dengan provokasi dan hoax terkait isu SARA.

Monday, January 15, 2018

Natal Nasional GMKI di Sumba, Dubes Palestina Akan Hadir Memberikan Pesan Perdamaian

JAKARTA –  Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) akan melaksanakan Sarasehan Nasional Mahasiswa dan Masyarakat Desa di Waikabubak, Sumba Barat, dan Natal Nasional GMKI di Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, pada hari Kamis (18/1) sampai Sabtu (20/1) mendatang.
Ketua Umum Pengurus Pusat GMKI, Sahat Martin Philip Sinurat mengatakan bahwa kegiatan Natal Nasional dilaksanakan sesuai dengan konteks persoalan yang saat ini sedang dihadapi oleh masyarakat.
"Tahun lalu GMKI mengadakan Natal Nasional di Samarinda, sebulan pasca terjadinya bom di Gereja Oikoumene yang menelan korban jiwa. Kami saat itu mengajak Dubes Palestina untuk berkunjung ke gereja tempat terjadinya peristiwa bom dan disana Dubes memberikan pesan perdamaian agar bangsa Indonesia tidak terpecahbelah dan menjaga keharmonisan berdasarkan Pancasila," uja Sahat.
Sahat melanjutkan, "tahun ini Natal Nasional GMKI dilaksanakan di Pulau Sumba, karena pemerintah kita saat ini sedang fokus membangun masyarakat desa. Selain itu, masih ada sekelompok pihak yang ingin memecah bangsa kita. Maka kami mengajak masyarakat kita untuk belajar dari masyarakat desa tentang bagaimana kehidupan yang harmonis, damai, dan bergotongroyong.
Kegiatan Natal akan diikuti 1000 orang peserta dan bertemakan "Berdamailah Dengan Semua Ciptaan".
"Secara khusus Dubes Palestina yang baru, akan hadir untuk memberikan pesan perdamaian di depan para undangan yang berasal dari berbagai lembaga dan agama. Beliau sangat senang untuk hadir dan berbagi pengalaman dengan masyarakat Sumba," kata Sahat.
Sahat menyampaikan, "melalui Natal Nasional ini, GMKI ingin memberikan pesan bahwa kita sebagai satu bangsa Indonesia harus dapat berdamai satu sama lain, menjaga persatuan dan tidak terprovokasi dengan informasi hoaks dan isu SARA. Apalagi saat ini suhu politik semakin tinggi dan ada sekelompok pihak yang tidak malu-malu menggunakan isu agama, etnis, ataupun lainnya untuk meraih dukungan."
Selain Natal Nasional, GMKI juga melaksanakan acara Sarasehan Nasional Mahasiswa dan Masyarakat Desa yang dihadiri oleh Menteri Desa PDTT Eko Putra Sandjojo, Satgas Dana Desa Bibit Samad Riyanto, Putri Pariwisata 2016 Lois Merry Tangel, dan beberapa pembicara lainnya.
“Kami berharap agar kegiatan ini dapat merumuskan langkah-langkah baik dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan menjaga perdamaian dan kerukunan di tengah masyarakat kita yang beragam,” tutupnya.

Wujudkan Desa Berdaulat dan Mandiri, GMKI Laksanakan Sarasehan Nasional Mahasiswa dan Masyarakat Desa di Sumba

JAKARTA –  Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) akan melaksanakan Sarasehan Nasional Mahasiswa dan Masyarakat Desa di Waikabubak, Sumba Barat, dan Natal Nasional GMKI di Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, pada hari Kamis (18/1) sampai Sabtu (20/1) mendatang.
Ketua Umum Pengurus Pusat GMKI, Sahat Martin Philip Sinurat mengatakan bahwa kegiatan sarasehan bertujuan untuk mempertemukan mahasiswa dan masyarakat desa agar terbangun kesadaran bersama untuk membangun desa.  Melalui kegiatan ini diharapkan juga ada rumusan bersama untuk menciptakan desa yang berdaulat dan mandiri. 
“Kami melihat bahwa saat ini ada sebanyak 122 daerah tertinggal dan jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 27,77 juta orang dengan 17,10 juta orang yang tinggal di daerah pedesaan. Melihat kondisi ini mahasiswa harus semakin peka dan turut terlibat dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di pedesaan,” kata dia.
Dalam sarasehan ini akan ada beberapa pembicara yang menyampaikan materi tentang membangun desa berdaulat dan mandiri, serta pengembangan potensi desa berbasis pariwisata dan ekonomi kreatif.
"Selama ini mahasiswa mengikuti kuliah kerja nyata (KKN) dalam proses perkuliahan di kampus. Sudah ada upaya dari kampus untuk mendekatkan mahasiswa dengan desa. Oleh karena itu pemerintah perlu membuat kebijakan lebih lanjut agar mahasiswa dapat terjun lebih dalam membangun desa," saran dia.
Sahat mengungkapkan bahwa kegiatan sarasehan ini akan diikuti sebanyak 500 peserta dari Aceh hingga ke Papua yang terdiri dari mahasiswa, perwakilan masyarakat, pendamping desa, aparatur desa dan anggota GMKI seluruh Indonesia.
Acara Sarasehan Nasional Mahasiswa dan Masyarakat Desa akan dihadiri oleh Menteri Desa PDTT Eko Putra Sandjojo, Satgas Dana Desa Bibit Samad Riyanto, Putri Pariwisata 2016 Lois Merry Tangel, dan beberapa pembicara lainnya.
“Kami berharap agar kegiatan ini dapat memberikan wawasan bagi mahasiswa dan masyarakat desa, dan yang paling utama, mahasiswa dan para alumni kampus akan ikut berperan dalam mewujudkan desa yang berdaulat dan mandiri,” tutupnya.

Tuesday, December 12, 2017

Undangan Ibadah Perayaan Natal GMKI Cabang Yogyakarta Tahun 2017






Sunday, December 10, 2017

Dokumentasi Penelaahan Alkitab GMKI Yogyakarta 7 Desember 2017 dalam rangka Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (K16HAKTP)


Dokumentasi Penelaahan Alkitab GMKI Yogyakarta 7 Desember 2017 dalam rangka Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (K16HAKTP). 
PA mengambil tema "Citra Perempuan sebagai Konstruksi Budaya Media".
Materi pengantar disampaikan oleh saudari Yustin Nahumury.
Dilanjutkan dengan Diskusi Kelompok dan Presentasi hasil diskusi kelompok.
Diakhiri dengan membuat slogan pernyataan bertema perempuan.




























Friday, November 17, 2017

Ada ataupun Hilang, Dia Tetap Berharga

Materi PA oleh: Mike Makahenggang
Kamis, 16 November 2017

Bacaan: Lukas 15:1-10

Pengantar
Setiap orang pernah mengalami kehilangan, namun menjadi persoalannya adalah ketika terus menganggap bahwa biarkanlah yang sudah hilang biarlah hilang, toh akan temukan lagi yang baru!! Jika itu menjadi paham kita akan menjadi pribadi yang kurang menghargai apa yang kita miliki serta apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Dalam ajaran Buddhisme, segala sesuatu di dunia ini tidak kekal maka yang kita punya saat ini perlu dihargai dan pergunakan sebaik-baiknya. Kehilangan siapa diri kita yang sebenarnya sebagai ciptaan yang baik karena pengaruh dari luar, inilah yang menjadi persoalan bagi pribadi itu dan Tuhan.

Konteks Bacaan
Dalam kitab injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes memiliki isi yang hampir sama tetapi juga berbeda dari segi bahasa dan penempatan tempat. Kembali perlu diingat bahwa dari masing-masing penulis yang menulis injil ini memiliki latar belakang dan konteks sasaran pembaca yang berbeda-beda, dan dalam hal ini kita akan membahas tentang injil Lukas maka marilah kita lebih fokus kepada injil Lukas. Lukas menulis injil dengan fokus pembacanya adalah kepada masyarakat pada waktu itu. Injil Lukas menjadi salah satu injil yang membahas sangat mendalam kisah Yesus dari awal sampai kenaikan. Karena fokus utama Lukas adalah memberikan gambaran tentang perjalanan Yesus kepada orang-orang yang 'belum atau tidak' mengenal Yesus secara jelas (1).
Bacaan kita malam ini akan membahas tentang perumpamaan yang digunakan Yesus untuk murid-muridNya, yaitu perumpamaan tentang domba yang hilang dan perumpamaan tentang dirham yang gilang. Dalam bacaan ini, Yesus bukan tanpa sebab membahas tentang perumpamaan, karena dapat diperhatikan dalam pasal-pasal selanjutnya Yesus masih menggunakan cerita perumpamaan. Nampaknya, Yesus sudah mulai mempersiapkan orang-orang disekitarNya akan hari 'kepergiaanNya'. Yesus merasa bahwa karena Dia tidak selamanya dapat bersama mereka dan mengajarkan tentang kebaikan, maka Dia mempersiapkan murid-muridNya untuk hari kedepannya ketika Dia sudah tidak bersama mereka. (ayat 1) menggambarkan kondisi yang sedang terjadi pada saat itu, yang dimana orang-orang yang berkumpul dengan Yesus tidak seperti biasanya yang terjadi ketika ahli-ahli taurat membaca kitab taurat. Orang-orang yang 'tidak pantas' yang sebaliknya mengerumuni Yesus. Menurut masyarakat zaman itu orang yang disebut berdosa bukan hanya karena mereka yang suka melakukan kesalahan tetapi orang miskin pun dianggap orang berdosa dan juga orang sakit dianggap orang berdosa. (ayat 2) menjelaskan betapa marahnya, jengkel dan kecewanya orang farisi dan ahli taurat atas sikap Yesus yang mau untuk duduk bersama para pendosa. (mari kita mengenal siapa yang disebut orang farisi dan ahli taurat) (2). Orang farisi adalah pemimpin spiritual Yahudi. Kaum farisi adalah perkembangan dari kelompok hadisim atau kelompok yang menganggap diri mereka sebagai orang beragama yang saleh orang atau kelompok yang mengatakan mereka adalah orang suci, orang yang dikenal suka memamerkan kehidupan iman mereka. Kelompok farisi ini yang sering melakukan doa di jalan-jalan raya agar dilihat orang. Dan selalu merasa suci sehingga tidak membuka diri untuk bergaul dengan orang yang 'tidak suci'. Ahli taurat adalah para pakar dalam hukum taurat yang menerangkan hukum taurat itu sendiri bagi agama yahudi. Ahli taurat tertugas menyusun peraturan dan ketentuan untuk setiap situasi keagamaan yahudi, dan memberikan khitbah-khotbah di sinagoge (3). Kekecewaan yang dirasakan oleh kaum farisi dan ahli taurat adalah sikap Yesus yang membuka diri untuk bergaul dengan orang-orang yang berbuat dosa tersebut. Mereka merasa bahwa apabila Yesus benar-benar utusan Allah maka seharusnya Yesus tidak harus bergaul dengan orang-orang tersebut. (ayat 3) Yesus menjawab kekesalan mereka dengan 2 perumpamaan yang membingungkan tetapi kaya akan makna. Perumpamaan ini ingin menunjukkan bahwa baik kaum farisi, ahli taurat maupun orang yang dianggap berdosa ini mereka sama-sama penting di hadapan Allah. (ayat 4-10) Yesus mulai menjabarkan 2 perumpamaan yang sama-sama menceritakan tentang sesuatu yang hilang itu tetap berharga maka patut untuk ditemukan kembali. Domba yang jumlah ada 100 ekor tiba-tiba hilang 1, telah memberikan kesedihan dihati sang gembala. Maka yang harus dilakukan oleh sang gembala adalah mengamankan 99 ekor yang ada, kemudian pergi untuk mencari 1 yang hilang itu, begitu juga dengan perempuan yang memiliki 10 dirham dan tiba-tiba hilang 1, dia akan membongkar seisi rumahnya untuk mencari yang hilang itu (dirham adalah mata uang perah yunani). Yang kemudian menjadi pertanyaan bagi orang pada saat itu dan juga kita saat ini (semoga seperti itu) bahwa apakah 99 ini tidak begitu berharga sehingga sang gembala menjadi sedih dan pergi mencari 1 yang hilang itu? Atau apakah 9 dirham itu tidak penting sehingga hanya fokus pada 1 dirham yang hilang?
Bukankah ada ungkapan yang mengatakan yang sudah hilang, biarkanlah, dan marilah fokus pada hal yang baru, nampaknya Yesus tidak setuju dengan ungkapan itu (mungkin).

Konteks Saat Ini
Berbicara tentang kehilangan, pastilah setiap orang pernah mengalami itu. Perlu diingat bahwa ada 2 macam kehilangan yang sering dialami manusia; kehilangan secara alamiah salah satu contohnya kematian, atau pasangan yang tidak jodoh, peristiwa ini harus perlahan-lahan diterima, atau kehilangan yang tidak alamiah yakni karena ada pengaruh faktor lain yang itu dapat ditemukan kembali dengan usaha keras contohnya kehilangan barang berharga karena lupa atau kerampokan dan yang cukup memprihatinkan adalah kehilangan jati dirinya. Namun seringkali manusia zaman now menyamaratakan antar kehilangan yang alamiah dan yang tidak alamiah. Kita sering memaksakan kehendak karena belum siap pasangan kita diambil orang yang membuat kita melakukan hal-hal yang tidak terpuji, namun ketika kehilangan jati diri kita, kita menganggap bahwa itu biasa saja dan saya sudah gagal tidak dapat bangkit kembali. Yesus dalam ungkapan perumpamaan ini ingin menjelaskan dan mengingatkan kepada setiap kita bahwa menjadi manusia yang kristis dan mempertahankan apa yang kita miliki merupakan hal yang penting. Yang dimaksud dengan apa yang dimiliki adalah ciptaan yang baik yang Allah ciptakan itu adalah baik sejak semula maka akan tetap baik sampai pada akhirnya dia akan kembali kepada Sang Bapa. Manusia siapa yang tidak berdoa tetapi itu bukan akhir dari segalanya, akrena pada akhirnya Allah akan melihat adalah apakah dia sungguh-sungguh ingin kembali kepada Allah dengan kehidupan yang sempurna.

Untuk Direfleksikan
Jika Yesus mengatakan bahwa seluruh malaikan di sorga akan berbahagia ketika yang hilang kenbali pulang, maka itu seharusnya memberikan peluang bagi setiap kita untuk mencari "bagian kita" yang hilang.
Mungkin kejujuran yang kita miliki mulai hilang karena pengaruh lingkungan, maka usahakanlah untuk temukan kembali.
Mungkin relasi kita dengan Tuhan mulai berkurang karena kesibukan kerja dan kuliah, mari bangun kembali.
Mungkin relasi kita sudah mulai renggang dengan orang tua karena tidak ada waktu komunikasi, maka carilah dan hidupkan lagi.
Mungkin rasa tanggung jawab kita yang mulai berkurang untuk jabatan yang kita miliki mulai terbengkalai, marilah temukan lagi semangan yang dulu.
Mungkin janji kita untuk GMKI dengan visi misi yang baik mulai terkikis, temukan kembali semangat itu dan lakukan yang terbaik, karena apa yang hilang juga sama berharganya dengan yang masih kita miliki ini, seperti yang Yesus katakan bahwa isi sorga akan bersukacita apabila yang hilang itu ditemukan. Hidup kita akan bersinar atau bermanfaat ketika kita tetap menjadi manusia-manusia yang setia pada yang sudah Tuhan percayakan pada kita tentang anugerah-anugerah yang baik, jagalah itu dan jangan nodai ataupun hilangkan (seperti lirik lagu).

Pertanyaan Refleksi

  1. Pernahkah teman-teman mengalami kehilangan sesuatu yang sangat berharga tetapi belum ditemukan kembali, padahal kalau dicari mungkin masih bisa ditemukan?
  2. Pernahkah mengalami kehilangan motivasi hidup? Ataukah pernah mengalami kebuntuhan untuk melakukan sesuatu?
  3. Apakah semangat awal anda dalam hidup dan belajar di GMKI masih sama dari awal sampai sekarang? Kalau iya, mengapa? Kalau tidak, mengapa?


----------
(1) Willi Marxsen, "Pengantar Perjanjian Baru", Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002. (hal. 186)
(2) Bergant, dkk, "Taksir Alkitab Perjanjian Baru", Yogyakarta: Kanisius, 2002. (hal. 142)
(3) Alkitab edisi studi, Jakarta: LAI