Papan Nama SC GMKI Yogyakarta

Menyambut setiap orang yang datang ^^

Drama Paskah,

Sebuah Kreasi Refleksi Iman

Suasana setelah Diskusi,

SC Masih tetap Ramai

Proses Membasuh Kaki,

Simbol Pelayanan dan Penyambutan kepada Anggota Baru GMKI

Sidang Pleno 1 BPC 2011-2013,

Forum Pembahasan Program Cabang

Pelatihan Appreciative Inquiry,

Melatih untuk Bergerak dengan Aset!

Pelatihan Kemampuan Dasar Berorganisasi,

Bekal Perserta dalam Berorganisasi

Kongres GMKI ke-33 di Manado,

Forum Pembahasan Nasional GMKI

Delegasi Kongres GMKI ke-33 di Manado,

Pejuang dan Penyumbang Pemikiran

Usaha Dana Kaos GMKI,

Kreasi Pengumpulan Dana untuk Kebutuhan Delegasi Kongres ke-33

Kecab Palembang-Kecab Jogja,

Keluarga dalam Tuhan dan GMKI

Berkunjung ke Rumah Senior,

Upaya untuk Menjaga Relasi

Stand Expo Pergerakan di FT UGM

Upaya Pengenalan dan Aksi Pelayanan Perguruan Tinggi

Aksi Tolak Kenaikan Harga BBM,

Bentuk Aksi Pelayanan Masyarakat dari GMKI

Refleksi dan Ziarah Hari Pahlawan,

Upaya Mengenang dan Membangkitkan Semangat Para Pahlawan

Monday, October 31, 2016

Pernyataan Sikap Kelompok Cipayung Yogyakarta (Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2016)



CIPAYUNG YOGYAKARTA

GOTONG ROYONG KEPEMUDAAN


Gotong royong sebagai salah satu falsafah kehidupan sosial di Indonesia merupakan spirit utama dalam setiap penyelenggaraan kehidupan negara. Melunturnya nilai gotong royong akan berdampak pada ketimpangan pengamalan nilai- nilai luhur bangsa. Singkatnya, gotong royong merupakan warisan budaya yang menjadi harga mati untuk dipertahankan dan diperjuangkan dalam usaha menjalin tali kesatuan bangsa.
Tidak dapat dipungkiri, dimasa sekarang, frasa gotong royong kian tergerus perubahan peradaban yang dilatari oleh banyak hal. Untuk itu, aliansi CIPAYUNG (GMNI, PMII, HMI, GMKI, PMKRI) Yogyakarta mencoba memperingati momentum sumpah pemuda dalam dimensi pendidikan, kesatuan bangsa, serta budaya di Indonesia.
Pertama, di bidang pendidikan. Pendidikan hari ini diyakini bukan hanya sebagai transfer of knowledge tetapi juga transfer of value. Pendidikan sebagai media kecerdasan bangsa mengalami sistemisasi yang miskonsep dari tujuan awalnya. Pendidikan belum menjadi alat perjuangan dan pembebasan akan kebodohan manusia serta alat untuk memerdekakan manusia namun pendidikan hari ini cenderung bersifat pragmatis. Malahan sistem pendidikan Indonesia menunjukkan trend negatif dengan adanya peningkatan pengangguran berpredikat sarjana dari 5,34% pada 2015 menjadi 6,22% pada tahun 2016 (BPS 2016).
Kedua, CIPAYUNG Yogyakarta juga mengecam tindakan pelanggaran terhadap kebebasan beragama. Jumlah pengaduan akan dugaan pelanggaran kebebasan beragama mengalami trend buruk dari 74 pengaduan pada tahun 2014 tercatat, meninggkat menjadi 89 pengaduan pada 2015; dan 34 pengaduan per Juni 2016. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap pluralitas keagamaan dalam dimensi keberagaman masih rendah. Teologi Kemanusiaan Kautsar Ansari Noer mengatakan bahwa “Jangan coba-coba berani hidup di dunia, jika tidak sanggup bersentuhan dengan perbedaan, sebab perbedaan adalah syarat dunia ini” (Kautsar Ansari Noer, 2001).
Ketiga, dalam menanggapi isu regional, CIPAYUNG Yogyakarta menilik permasalahan lingkungan dan segala bentuk konservasi ekologis sebagai bentuk penggerusan budaya dan tatanan sosial Yogyakarta. Upaya moratorium pembangunan hotel yang dikeluarkan Pemkot Yogyakarta masih merupakan kebijakan setengah hati. Moratorium yang awalnya berakhir pada akhir tahun 2016 masih diperpanjang sampai akhir tahun 2017 melalui Peraturan Wali Kota (Perwalkot) Yogyakarta Nomor 55 Tahun 2016, menggantikan Perwalkot No. 77/2013. Uniknya, perpanjangan masa moratorium ini didasarkan pada okupansi hotel. Hal ini menyiratkan bahwa Pemkot Yogyakarta masih terjebak dalam logika profit sebagai faktor pendorong pembangunan. Padahal, Kota Yogyakarta secara nyata sudah tidak mampu menampung pembangunan hotel lagi. Branding renaissance Yogyakarta yang diusung dalam RPJMD DIY Tahun 2012-2017 dalam penerapannya masih jauh dari visi pembangunan Yogyakarta dengan cita Hamemayu Hayuning Bawono (Mempercantik alam yang sudah cantik).
Berhadapan dengan sekelumit persoalan yang ada, CIPAYUNG Yogyakarta mengajak segenap pemuda dan rakyat Indonesia untuk kembali merefleksikan nilai-nilai luhur kebangsaan sebagai bagian yang pelahan tergerus oleh beragam problema yang ada.
Untuk itu, demi cita-cita mulia para pendahulu yang termaktub dalam Sumpah Pemuda, kami Cipayung Yogyakarta menuntut:
  1. Menolak segala bentuk komersialisasi pendidikan
  2. Menjunjung tinggi keutuhan bangsa dan pluralitas agama sebagai daya rekat kesatuan
  3. Mengawal Renaissance Yogyakarta
  4. Mendorong pendidikan yang berkebudayaan kritis dan transformatif

Tuesday, February 3, 2015

Siapkah Melayani sebagai Hamba?

Dalam Injil Lukas 17:7-10, kita bisa menghayati perumpamaan seorang hamba yang bekerja pada seorang tuan. Tuan tersebut mempunyai ladang dan ternak.


Dalam ayat 10, Tuhan Yesus mengingatkan para murid dalam menjalankan tugasnya untuk tidak mengharapkan imbalan dari pelayanannya. Mereka harus mengingat bahwa mereka melakukan apa yang harus dilakukan (tanggung jawab mereka).


Pelayanan yang identik dengan pengabdian juga harus dijalani dengan ikhlas. Supaya menghindari sikap seperti orang Farisi yang berpikiran bahwa pelayanan berbanding lurus dengan pahala yang mereka terima.


Melalui perumpamaan dalam perikop tersebut, Yesus juga mengajarkan agar tidak kuatir. Allah adalah Tuhan yang baik. Ia akan membalas menurut kehendak-Nya.


Saat ini, konsep pelayanan yang menghayati hati hamba seolah menjadi hal yang paling dicari. Mengapa?


Dogma teologi kemakmuran yang sempit menjadi marak saat ini. Dimana singkatnya dogma ini menganjurkan orang untuk lebih sering melayani dan memberi agar diberkati dengan berlimpah. Finansial dan kekayaan menjadi tolak ukurnya.


Dalam gereja, sering terjadi perpecahan. Benarkah itu adalah pertambahan variasi penafsiran atau perpecahan gereja terkait dengan finansial?


Ada kasus jemaat membuat gereja sendiri karena pelayan Tuhan di gereja asalnya tidak mau melayani maksimal. Pelayan Tuhan tersebut melakukan pelayanan dengan melihat ekonomi jemaatnya. Ia lebih peduli dan lebih melayani orang yang kaya.


Hal tersebut membawa kita pada penghayatan bahwa menjadi orang yang rendah hati dan tulus itu tidak mudah. Tapi kita hendaknya menjadi orang yang rendah hati. Meskipun kita sudah berjasa banyak dan tidak mendapat penghargaan.


Jika kita mengingat kisah Yunus, ia berusaha meninggalkan tanggung jawab pelayanan yang diberikan Tuhan. Sehingga kemudian ia dihukum oleh Tuhan agar berbalik menjalankan tanggung jawab pelayanannya.


Dari kisah Yunus tersebut, kita bisa menghayati bahwa tanggung jawab dari Tuhan itu penting dan berharga. Termasuk pelayanan kita dimanapun kita berada atau ditempatkan.


Kita harus menjalani pelayanan sebagai ungkapan terima kasih atas berkat Tuhan dalam hidup kita. Pelayanan yang memaksimalkan talenta kita juga merupakan ungkapan terima kasih kita kepada Tuhan. Serta menjadi usaha untuk menghayati jati diri kita sebagai manusia dan menjadi berguna sebagai manusia.


Dalam berpelayanan dan pekerjaan, kita harus keluar dari kotak pemikiran sebagai budak. Kita harus mengembangkan kreativitas dan keseimbangan.


Dalam berpelayanan, kita juga jangan membedakan antara rohani dengan duniawi. Dunia adalah pelayanan kita juga. Seperti sering kita sebut dengan Tiga Medan Layan GMKI (Gereja, Perguruan Tinggi, dan Masyarakat).


Akhirnya, siapkah kita melayani sebagai hamba yang rendah hati dan menghayati hidupnya?


Kiranya kita tetap berhikmat, profesional, dan totalitas dalam melayani. Seperti kata Antonio de Milo: “Seorang penyapu sungguh-sungguh menyapu seperti pelukis yang melukis dengan indah”.






--------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan ini merupakan hasil diskusi dalam Ibadah Pendalaman Alkitab (PA) Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Cabang Yogyakarta 22 Januari 2015. Di Student Centre GMKI Cabang Yogyakarta, Wisma Immanuel, Samirono Baru 54, Yogyakarta.

Saudara Leoderik Papuara (Sekfung Infokom, BPC GMKI Yogyakarta MB. 2014-2016) sebagai pelayan Firman Tuhan. Saudara Herman Ngkaia (Sekfung Akspel, BPC GMKI Yogyakarta MB. 2014-2016) sebagai pembawa acara.

Saturday, January 24, 2015

Resolusiku

Dalam kehidupan, ada orang yang merasa waktu berjalan cepat. Tapi ada juga yang merasa waktu berjalan lama.

Dalam kehidupan kita yang panjang, kita sering diajak untuk mendalami bagaimana kita menjalani hidup kita, sudah seperti apa hidup kita rencanakan, dan bagaimana realitas hidup kita hari ini.

Dalam menjalani tahun yang baru, kita sering diajak untuk membuat resolusi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Resolusi adalah putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat. Resolusi juga asalah pernyataan tertulis, biasanya berupa tuntutan tentang suatu hal.

Sedangkan di Wikipedia, Resolusi tahun baru adalah tradisi sekuler yang umumnya berlaku di dunia barat dimana seseorang berjanji akan melakukan tindakan atau sebuah komitmen untuk melakukan tindakan perbaikan diri yang dimulai tahun yang baru. Contohnya adalah lulus studi, menyelesaikan proses pelayanan, dan belajar banyak tentang konseling.

Resolusi bisa dikaitkan dengan Visi, Misi, dan Usaha. Banyak hal yang dilakukan untuk mencapai resolusi. Tapi banyak hal juga yang bisa menyebabkan resolusi itu gagal dicapai.

Secara singkat, ada 4 hal yang bisa menjadi penyebab resolusi gagal dicapai. Yakni:
1.  Resolusi terlalu besar dan terlalu sulit dijangkau
2.  Resolusi tidak dijalankan dengan tekad
3.  Tidak ada kontrol dan pengingat
4.  Kita terkadang merasa bisa melakukan sendiri tanpa tuntunan Tuhan.

Terkait resolusi dan kehidupan manusia, kita bisa belajar dari kitab Mazmur 90:1-17. Mazmur ratapan tersebut merupakan doa Musa yang dinyanyikan.

Musa adalah seorang tokoh besar yang membawa keluar umat Israel dari tanah Mesir. Ibunya bernama Yokhebed. Sedangkan bapaknya bernama Amran.

Perjuangan Musa sangat panjang. Tapi Allah selalu menopang dan menguatkan Musa.

Dalam Mazmur 90:1-17, kita melihat beberapa bagian Mazmur. Ayat 1-2 menjelaskan Musa mencoba melihat dan menyaksikan Allah adalah Penciptanya. Seringkah kita menyadari Allah yang menciptakan?

Ayat 3-6 Musa menjelaskan kekuatan Tuhan yang luar biasa dibandingkan kekuatan manusia. Kehidupan manusia juga singkat seperti di giliran jaga di waktu malam.

Dalam budaya Yunani, ada 4 kali giliran jaga di waktu malam. Sedangkan dalam budaya Ibrani, ada 3 kali giliran jaga malam. Padahal waktu jaga malam itu berlangsung selama jam 6 sore sampai 6 pagi. Sehingga giliran jaga di waktu malam itu sangat singkat.

Hal yang menarik adalah di dalam ayat 7-10. Kita bisa menghayati bahwa masa hidup manusia dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan. Hidup ini tak selalu seperti kita rencanakan.

Kehidupan yang kita jalani juga perlu kita maknai. Karena hidup yang tidak dimaknai adalah hidup yang tidak patut dijalani.

Dalam ayat 12-17, kita bisa melihat Allah mengajari umat Israel memahami  keberadaan di hadapan Allah. Bagaimana kita di hadapan Allah?

Di balik kelemahan kita, kita sering menyadari ada kekuatan Tuhan yang menyertai kita. Kita mengalami rahmat Allah.

Resolusi atau rencana yang kita buat akan gagal jika kita tidak melibatkan Allah dalam perencanaan. Resolusi juga akan gagal jika kita menyadari keberadaan kita di hadapan Allah dan jika kita tidak menyadari diri kita.

Saat ini, apakah kita sudah sungguh-sungguh mengenali diri kita? Apakah kita menyadari Allah yang memberi rahmat kepada kita? Kedamaian kita bisa kita alami jika kita merasakan Allah yang Mengampuni diri kita.

Resolusi yang kita bangun adalah belajar dari pengalaman, dari kesalahan, dan dari kehidupan yang telah kita jalani. Injil Yohanes mengatakan: Jika kita tidak dekat dengan Allah, kita tidak bisa berbuah apa-apa. Apakah kita merasakan kedekatan dengan Allah?

Rahmat Allah akan membuat kita sukses mewujudkan resolusi yang kita rencanakan bersama Allah.





------------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan ini merupakan hasil diskusi dalam Ibadah Pendalaman Alkitab (PA) GMKI Cabang Yogyakarta. Pada hari Kamis, 15 Januari 2015. Saudara Lamhot Augustinus Sihaloho sebagai pelayan Firman Tuhan. Dan saudara Leoderik Papuara sebagai pembawa acara.

Friday, September 5, 2014

Waspada untuk Berbuah

Pada masa kini, banyak kegiatan kerohanian yang seolah-olah penggembalaan. Tapi sebenarnya dengan modus untuk mendapat dana atau uang semata. Banyak fasilitas, orang, atau kelompok yang mengatasnamakan pelayanan. Tapi ternyata tujuannya hanya untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan kelompoknya (segelintir orang saja).


Belakangan marak kita jumpai/dengar orang-orang menganggap dirinya seorang nabi, penuntun, atau pengajar yang benar. Sehingga kemudian timbul pertanyaan yang skeptis. Bagaimana kemurnian pelayanan sekarang ini? Apakah kita dan mereka bermanfaat baik bagi orang lain?


Dalam Injil Matius 7:15-23, Tuhan Yesus mengingatkan untuk waspada terhadap nabi-nabi palsu dan ajaran-ajaran palsu. Tuhan Yesus juga memberitahukan pertanda untuk mengenali mereka.


Injil Matius adalah salah satu Injil Sinoptik. Menurut tradisi gereja, Injil Matius ditulis oleh Matius, sang pemungut cukai, yang kita ketahui sebagai salah satu murid Tuhan Yesus.


Injil Matius adalah Injil Messianik yang menunjukkan bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias yang telah dijanjikan Tuhan. Sehingga kalau kita cermati, Injil Matius didominasi oleh penggenapan nubuat-nubuat dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Dan itulah yang menjadi keunikan Injil Matius dibanding Injil Sinoptik lainnya.


Perikop Matius 7:15-23 tersebut merupakan salah satu bagian dari Khotbah Tuhan Yesus di Bukit. Khotbah di Bukit merupakan pengajaran dan pelayanan awal Tuhan Yesus.


Pelayanan awal Tuhan Yesus tersebut dilakukan-Nya setelah Ia melalui 40 hari 40 malam berpuasa di padang gurun dan pencobaan Iblis. Tuhan Yesus ditempa.


Selanjutnya, dalam mewaspadai nabi-nabi palsu dan ajaran-ajaran palsu, Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk menyimak, melihat, dan memperhatikan buah-buah yang dihasilkan. Hal ini bisa kita lihat dalam ayat 16-18.


Ada aktivitas nabi-nabi palsu yang kelihatannya baik dari luar tapi tidak menghasilkan buah yang lahir. Mengatasnamakan Tuhan tapi pelayanannya tidak berbuah baik bagi sesama/orang lain.


Dalam ayat 23, Tuhan Yesus kembali menegaskan bahwa bukan orang yang memanggil “Tuhan,Tuhan” yang diselamatkan. Tapi mereka yang melakukan kehendak Tuhan. Karena hal yang esensial dari iman kita adalah disertai dengan perbuatan/tindakan.


Kita hendaknya jangan lalai melakukan tugas pokok/inti kita. Iman kita harus mewujudnyata dalam tindakan/perbuatan kita.


Kewaspadaan hendaknya senantiasa menyertai perjalanan kehidupan kita. Karena kalau kita tidak waspada, bisa jadi kita terjebak juga menjadi seperti nabi-nabi dan pengajar-pengajar palsu.


Kita harus tetap menjaga diri kita sebagai pohon yang baik dan menghasilkan buah baik di tiga medan layan kita. Kita perlu selalu mempertanyakan: Apakah suara kita lebih penting dari tindakan kita?


Melihat kehidupan Tuhan Yesus, kita bisa melihat bagaimana Tuhan Yesus ditempa/dikader dan menempa/mengkader dirinya sendiri. Kemudian Tuhan Yesus melakukan pelayanan dan pengabdian. Hal tersebut sejalan dengan Tri Panji GMKI (Tinggi Iman, Tinggi Ilmu, dan Tinggi Pengabdian).


Di tengah kehidupan, kita hendaknya mengenali diri kita serta menghayati iman dan ilmu kita. Kemudian kita bergerak dengan aset dan kemampuan kita masing-masing.


Akhirnya, marilah kita terus waspada dan berbuah! 








---------------------------------------------------------------------------------------- 
Tulisan ini merupakan hasil diskusi dalam Ibadah Pendalaman Alkitab (PA) GMKI Cabang Yogyakarta tanggal 4 September 2014. Di Student Centre (SC) GMKI Cabang Yogyakarta, Samirono Baru 54, Yogyakarta.
Robert Umbu Rangu (Ketua Bidang Organisasi, BPC GMKI Yogyakarta Masa Bakti 2014-2016) sebagai pelayan Firman Tuhan.

Sunday, June 1, 2014

Kepemimpinan Berintegritas

    Di era teknologi modern saat ini, jejaring sosial dan gadget  menjadi sesuatu yang tidak asing bagi kita. Hampir semua orang pun memilikinya sekarang.


    Itu semua adalah pengaruh-pengaruh yang dibawa dari orang asing atau luar negeri. Mereka menanamkan atau berinvestasi. Namun bagaimana sikap kita? Apakah kita sudah bertanggungjawab dalam memanfaatkannya?


    Dalam  1 Korintus 6:12-20, perikop Firman Tuhan tersebut berkaitan dengan Kepemimpinan yang Berintegritas. Tak selamanya apa yang dilihat oleh manusia adalah yang akan Tuhan pakai dan pilih. Tapi Tuhan melihat ketulusan hati.


    Ada beberapa poin penting yang perlu dipertimbangkan oleh seorang pemimpin yang berintegritas:
1.  Apakah sesuatu berguna bagi kehidupan kita?
     Setiap orang diciptakan sebagai pemimpin. Namun dalam perjalanannya, tidak sedikit orang yang kurang/tidak berhasil menjadi pemimpin. Karena terlena dengan hal-hal yang tidak berguna/bermanfaat dan tidak membantunya untuk bertumbuh.


2.  Apakah kita diperhamba oleh sesuatu (olehnya)?
     Sebagai manusia, kita semua memiliki suatu pemikiran “atuiti”. Yakni pemikiran yang berusaha menirukan sesuatu yang kita lihat. Termasuk dalam memanfaatkan teknologi.
     Perkembangan gadget  yang makin maju seringkali memicu kemerosotan moral. Sehingga perlu kita tekankan: Apakah kita diperhamba oleh teknologi dan apapun itu?


3.  Apakah menjadi batu sandungan bagi orang lain?
     Melalui 1 Korintus 8:12-13, kita diingatkan bahwa kalau kita merusak keyakinan (menjadi batu sandungan) orang lain, maka kita berdosa kepada Kristus. Sementara itu, Daging bermakna kecukupan akan kebutuhan makanan.
     Kita sering berusaha mencukupkan kebutuhan dan keinginan diri kita sendiri. Tapi seolah tidak memikirkan orang lain. Hendaknya kita mempertanyakan: Apakah upaya kita melukai orang lain?
     Kita harus mengingat bahwa tidak ada orang yang bisa hidup sendirian. Dan apa yang kita lakukan akan ditiru orang lain juga. Sehingga kita harus berpikir panjang dan luas.


4.  Apakah sesuatu/ini memuliakan Allah?
     Melalui 1 Korintus 10:31, kita diingatkan untuk melakukan apapun untuk memuliakan Allah. GMKI pun berusaha untuk terus menghidupi tujuan utama tersebut.
     Melalui 1 Yohanes 1:9, kita pun diingatkan tentang prestasi lahiriah. Seorang pemimpin harus hidup kudus di depan orang lain secara nyata. Tidak perlu omong besar dan berkoar-koar.
     Cukup dengan apa yang kita lakukan. Apakah bisa menjadi contoh? Dan yang terpenting adalah kerendahan hati. Seperti Daniel yang tetap rendah hati meskipun ia mendapat jabatan yang tinggi.
     Menyimak Yesaya 42:8, kita mendapati orang-orang di Perjanjian Lama nyata-nyata diberkati dengan bisa bertemu langsung dan berkomunikasi langsung dengan Tuhan. Tapi mereka sombong dan dihukum Tuhan.
     Tuhan membenci kecongkakan. Dan kita sebagai orang yang sudah ditebus Tuhan, apa yang sudah dan akan kita lakukan? Apalagi sebagai pemimpin?
     Sebagai anak-anak Tuhan yang sudah ditebus-Nya, kita sebaiknya dan seharusnya tidak menjadi congkak. Dan berusaha mewujudkan kemanfaatan bagi orang lain.
     Untuk memimpin, kita terlebih dahulu harus bisa memimpin diri sendiri. Memang tantangan dan ujiannya berat. Pengaruh negatif bisa muncul dari diri sendiri dan orang lain.
     Misalnya: aura jahat, suasana hati yang tidak tentram, kemalasan, kebiasaan menunda, prioritas yang salah, dan lain-lain.


5.  Seorang pemimpin harus cepat mengambil keputusan
     Ada tiga tahap/tipe seseorang dalam berpikir dan mengambil keputusan. Yakni:
a.  Analytical: berdasar/menggunakan analisis
b.  Intituitive: berdasar/menggunakan intuisi yang dibangun dari pengalaman
c.  Blank Spot: saat seseorang menghadapi situasi tanpa pengalaman dan pengetahuan

    Selanjutnya, dalam mengambil keputusan secara rasional, minimal harus ada dua dari tiga nilai (value) berikut yang perlu kita pikirkan:
a.  Biaya
b.  Waktu
c.  Kualitas

    Kita perlu memikirkan pertanyaan-pertanyaan ini dalam mengambil keputusan dan bertingkah laku:
-Apakah yang kita lakukan diperkenan Allah, dibolehkan Allah, dibiarkan Allah, diberkati Allah, atau malah dikutuk Allah?
-Apakah membuat nama Tuhan dipermuliakan?
-Apakah membuat manusia menjadi makin manusiawi?
-Apakah membuat alam/lingkungan lestari?


     Akhirnya, mari kita menjadi pribadi yang memiliki spiritualitas, integritas, dan profesionalitas!
     Mari kita menjadi pemimpin yang memiliki spiritualitas, integritas, dan profesionalitas!
     Ut Omnes Unum Sint!





-----------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan ini merupakan hasil diskusi ibadah Pendalaman Alkitab (PA) GMKI Yogyakarta 29 Mei 2014.
PA tersebut dilakukan di Student Centre GMKI Yogyakarta, Samirono Baru 54, Yogyakarta.
Edy Kristanto (anggota GMKI Yogyakarta dari kampus STAK Marturia) sebagai pelayan Firman Tuhan.

Thursday, May 29, 2014

Kekuasaan....?

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai ini bukanlah negara agama. Sekalipun agama mendapat tempat yang sangat penting di dalam hidup bernegara dan berbangsa sebagaimana terdapat dalam Pancasila dan UUD 1945. Meskipun Pancasila sudah final sebagai ideologi berbangsa dan bernegara di bumi persada Negara Kesatuan Republik Indonesia, namun akhir-akhir ini banyak persoalan yang sedang dihadapi di seputar hubungan agama dan pemeluknya dengan pemerintah. Tanpa bisa dipungkiri bahwa banyak intervensi pemerintah dari waktu ke waktu di tengah perjalanan kehidupan beragama di negeri ini dengan berbagai alasan.


Jika menoleh sejenak ke belakang, dalam sejarah kekristenan, hubungan antara umat percaya (baca: Gereja) dengan Negara (baca: pemerintah), seringkali diwarnai dengan ketegangan-ketegangan, kontroversi dan pasang surut. Suatu saat Negara (pemerintah) menguasai orang percaya (gereja) seperti zaman Konstatinus Agung. Namun sebaliknya ada saatnya dimana Gereja mendominasi Negara. Ini terjadi misalnya di abad pertengahan ketika kekuasaan Paus begitu hebat sampai-sampai para raja yang hendak berkuasa harus mendapat restu dari dirinya. Dalam masa itu posisi Negara (pemerintah) menjadi sub-ordinat dari gereja. Kalau demikian persoalannya, maka pertanyaan yang mencuat kepermukaan adalah bagaimana seharusnya sikap ideal yang mestinya diambil oleh orang percaya (gereja) vis a vis (berhadap-hadapan) dengan Negara (pemerintah)?


Perikop Roma 13:1-7 merupakan bagian Alkitab yang secara tegas berbicara tentang bagaimana sebenarnya sikap ideal orang percaya (gereja) terhadap  pemerintah. Tapi perikop tersebut sering dijadikan sebagai dogma bersikap terhadap pemerintah.


Di zaman penulisan surat Roma, ada kelompok Yahudi yang menekan masyarakat untuk memberontak kepada pemerintah. Sehingga menimbulkan huru-hara dan menyebabkan Bait Allah diluluhlantakkan. Serta raja Claudius mengeluarkan Maklumat untuk mengusir orang-orang Yahudi.


Roma 13 tidak bisa dilepaskan dari konteks pengusiran. Roma 13 mengingatkan orang-orang Yahudi untuk tidak mengulangi kesalahan orang Yahudi sebelumnya. Menenangkan orang Yahudi dan Kristen untuk tidak gegabah melakukan kesalahan.


Rasul Paulus dalam nats perikop ini memberikan pengajaran yang tegas dengan sebuah pernyataan: “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya …” (ay 1). Ada 3 (tiga) penekanan yang perlu diperhatikan dari pernyataan ini: Pertama, bahwa Allah adalah mutlak pemegang pemerintahan atas bangsa-bangsa. Dialah yang menempatkan para pemegang pemerintahan dan di belakang segala pemerintahan di dunia yang ada adalah kedaulatanNya. Kedua: bahwa setiap orang Kristen harus mengakui negara, menaati kekuasaan yang sah selama ketaatan ini tidak bertentangan dengan hukum Allah atau kuasa Kristus, dan mendoakan orang-orang yang memegang jabatan yang bertanggungjawab (bnd. 1 Timotius 2: 1-7).Ketiga: bahwa orang Kristen harus menaati pemerintah adalah karena suara hatinya. Maksudnya bahwa jika orang percaya melakukan pemberontakan kepada pemerintahan yang sah dimana kekuasaannya datang dari Allah maka suara hatinya akan menuduh dirinya sendiri tentang apa yang baik yang sesuai dengan kehendak TUHAN.


Pemerintah dimana orang Kristen (gereja) harus takluk atau taat adalah 1) Pemerintah yang menghargai kebaikan, 2) Menghukum orang yang melakukan kejahatan, 3) Pemerintah yang mensejahterakan dan mendatangkan keamanan bagi rakyatnya. Oleh sebab itu pemerintahan yang demikian harus ditaati, sebab ia menjadi kepanjangan tangan dari Allah yang adalah Allah yang tertib dan teratur. Allah jelas tidak bisa menoleransi sebuah anarki (keadaan tanpa hukum dan peraturan). Tujuan Allah adalah agar kehidupan manusia dalam masyarakat merupakan kehidupan yang penuh keharmonisan, kedamaian dan ketertiban (Lihat Roma 12:10,18).

Paulus menekankan hal tersebut pada ayat-ayat berikut:
“Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu.” (Roma 13:4)
“Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita.” (Roma 13:5)
“Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” (Roma 13:7).


Bila yang terjadi adalah bahwa pemerintah yang ada di atas orang percaya ternyata menyalahgunakan kekuasaan yang dipegangnya, dan malah membuat orang Kristen harus bergumul dengan ketaatan imannya kepada Allah. Atau dengan kata lain, pemerintah yang dipercaya Allah ternyata “merusak” dan mengabaikan hukum Allah, dan malah membuat orang Kristen harus bergumul dengan imannya kepada Allah, maka pemerintah yang demikian tidak harus dipatuhi. Pemerintah yang demikian mesti ditentang!


Kesetiaan dan ketaatan kita terhadap pemerintah berhenti ketika pemerintah itu mulai bertindak tidak sesuai dengan hukum Allah. Ketaatan kepada Allah dan hukumnya harus lebih utama daripada ketaatan kepada pemerintah. Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa ketaatan orang percaya (gereja) kepada pemerintah adalah ketika pemerintah yang memakai kuasa yang diberikan Allah untuk melayani masyarakat demi kedamaian, ketentrama, dan kesejahteraan masyarakat.


Paulus tidak menekankan kepatuhan/ketundukan yang sepenuhnya pada pemerintah. Paulus mencoba menyadarkan pembaca Roma untuk kritis terhadap pemerintah dan penguasa. Tapi tetap harus berhati-hati dan waspada. Ingat masa lalumu.


Kita bisa memakai perikop ayat tersebut untuk menyadarkan masyarakat untuk tidak gagap politik. Termasuk orang Kristiani  dan gereja.


Politik tidak sepenuhnya salah dan kotor. Politik itu penting. Kalau kita tidak tahu dan paham politik, kita akan menjadi bahan permainan politik orang lain.


Orang Kristiani dan Gereja seharusnya jangan terlalu apatis dengan lingkungan dan fenomena yang ada. Bukan cuma ramai dengan kerohanian. Tapi selayaknya Gereja di Amerika Latin yang bahkan bisa menjadi gerakan sosial.


T.B Simatupang adalah seorang tokoh yang pertama kali mengatakan bahwa partisipasi Kristen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara harusnya sekaligus positif yang artinya selalu berusaha memberikan sumbangsih yang baik bagi pemerintah dan warga lainnya, konstruktif yakni orang Kristen harus ikut ambil bagian dalam pembangunan bangsanya, dan sekaligus kritis yang artinya orang Kristen juga tidak boleh takut-takut untuk memberikan masukan dan koreksi kepada pemerintah demi kebaikan rakyat dan diberlakukannya hukum Tuhan.


Sebagai orang Kristen, kita hendaknya bisa menjadi cermin garam dan terang bagi orang lain. Kita menjadi cerminan dari Allah.


Kita perlu mengingat bahwa di dalam kasih, harus ada ketegasan juga. Teguran, kritik, dan nasehat perlu kita biasakan dalam mengasihi negara/pemerintah. Kita pun bisa berperan aktif dalam/melalui lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif.



------------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan ini merupakan hasil diskusi dalam ibadah Pendalaman Alkitab (PA) GMKI Yogyakarta 22 Mei 2014.
Di Student Centre GMKI Yogyakarta, Wisma Immanuel, Samirono Baru 54, Yogyakarta.
Bang Hobert (mahasiswa S-2 Teologi UKDW) sebagai pelayan Firman Tuhan.

Thursday, May 22, 2014

Sudah Bangkit dan Merdeka?


Kebangkitan Nasional Indonesia ditandai dengan berdirinya Budi Utomo pada tahun 1908 yang disertai berdirinya perkumpulan/organisasi pemuda lainnya. Perkumpulan atau organisasi tersebut mengangkat persoalan-persoalan bangsa. Pemuda sebagai tokoh sentral gerakan kebangkitan nasional Indonesia. Sampai  goal-nya pada kemerdekaan Indonesia.
Setelah satu abad lebih (106 tahun) Kebangkitan Nasional Indonesia berlalu, wacana-wacana kebangsaan yang lama masih terus diangkat sampai sekarang. Misalnya kemiskinan, kebodohan, penindasan, kekerasan, dan lain-lain.
Hari Kebangkitan Bangsa/Nasional Indonesia sudahkah dimaknai dengan Kebangkitan dari persoalan bangsa/nasional sekarang?  Bagaimana dengan nilai-nilai Pancasila saat ini?
Kebangkitan Nasional Indonesia hampir dilupakan. Terutama di tahun politik saat ini. Sehingga perlu ada usaha untuk membangun kesadaran masyarakat tentang kebangkitan nasional Indonesia.
Mulai 21 Mei 1998, kita masuk era Reformasi. Reformasi bisa diartikan sebagai proses pembaruan. Apa kabarnya Reformasi kita hari ini?
Merefleksi Kebangkitan Nasional Indonesia saat ini, agenda reformasi seperti stagnan. Pasca Reformasi 1998, seharusnya perlu ada cetak biru (blue print) tentang Indonesia yang dicita-citakan. Reformasi seharusnya bukan cuma struktural saja. Tapi menyangkut ideologi dan sistem.
Pemiskinan dan pembodohan masih relevan menjadi isu sentral saat ini. Pemiskinan dan pembodohan juga bisa kita jadikan musuh bersama saat ini.
Sejarah Gereja menunjukkan isu yang menjadi sorotan adalah pendidikan dan kesehatan. Visi mewujudkan shallom Allah menjadi visi yang menjiwai. Ironisnya, Gereja saat ini terkesan lebih sibuk dengan program-program internal dan kerohanian. Kurang mendalami permasalahan bangsa.
Kembali ke Pancasila, nilai-nilai Pancasila perlu kembali digelorakan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Bukan hanya pemanis regulasi.
Membangun integritas menjadi kebutuhan krusial di tengah permasalahan etika moral bangsa saat ini. Orang yang getol menyuarakan etika moral politik. Ternyata malah melanggarnya. Yang salah orangnya atau sistemnya?
Ekonomi Indonesia saat ini dibatasi dengan sistem yang kurang/tidak menimbulkan interaksi antar personal. Pasar modern memudarkan dan menghilangkan interaksi antar personal. Termasuk mempengaruhi budaya masyarakat.
Tiap orang saat ini menjadi hedonis dan individualis. Budaya dan ekonomi liberal merasuk juga dalam dunia pendidikan dan kesehatan. Ekonomi lokal Indonesia seolah kalah dengan ekonomi asing. Dan memunculkan pertanyaan: Sudah siapkah Indonesia sebagai negara berkembang menghadapi perdagangan bebas?
Indonesia saat ini belum sepenuhnya merdeka. Paradigma hukum perlu kita luruskan. Hukum untuk manusia, bukan manusia untuk hukum. Kesenjangan sosial dan budaya kolonial saat ini juga masih terasa mempengaruhi sistem dan struktur sosial Indonesia. Untuk itu, Indonesia membutuhkan persatuan dan kesatuan memecahkan permasalahan bangsa yang kompleks.
Aksi untuk memecahkan masalah bukan hanya turun ke jalan. Aksi intelektual dan aksi nyata bisa juga kita kembangkan. Mengkritik dengan tulisan, menginisiasi pendidikan alternaltif, dan lain-lain.
Orang-orang besar lahir dari tindakan dan karya yang nyata. Dimana tindakan dan karya tersebut dilandasi pengetahuan/referensi yang kuat. Membaca, berdiskusi, menulis, dan bersosialisasi menjadi aktivitas penting. Karena mahasiswa yang sejati adalah mahasiswa yang kritis, terasah kepekaan sosialnya, mengaplikasikan ilmunya, dan mampu berinteraksi/bersosial.
Dari pelaksanaan peraturan-peraturan yang ada, kita bisa cari celah untuk mengkritisi dan melakukan aksi nyata. Bidang pekerjaan apapun bisa kita manfaatkan untuk melakukan sesuatu yang mengarah pada kebaikan. Ada banyak hal yang bisa dilakukan.
Potensi yang ada perlu diberdayakan dan dimaksimalkan meskipun menjadi minoritas kreatif. Isu budaya populer bisa kita manfaatkan untuk membangun kesadaran dan rasa kebangsaan.
Kearifan lokal sangat perlu diangkat dalam permasalahan bangsa saat ini. Karena sebenarnya inti dari permasalahan bangsa Indonesia saat ini adalah kehilangan integritas.
Sebagai negara dunia ketiga, kita perlu memantapkan lagi identitas diri. Tapi sekarang ini ada semacam standarisasi pendidikan tanpa pemenuhan fasilitas yang memadai.
Kita dipaksa untuk bisa dan hebat oleh negara. Padahal fasilitas sistem tidak mendukung. Motivator pun menjadi makin marak belakangan ini untuk “menyemangati” orang-orang yang kebingungan.
Dalam GMKI, kekristenan yang oikumene harus juga dilandasi dengan nasionalisme. Fungsi kritik dan kontrol perlu dilakukan setiap saat. Sehingga menjadi garam dan terang dalam konteks ke-Indonesia-an.
GMKI, sebagai gereja incognito, perlu lebih lagi menjiwai kesatuan tubuh Kristus. Konflik internal dan eksternal yang ada perlu disikapi serta dipecahkan dengan bijak. Sehingga tidak menimbulkan perpecahan dan menghambat peran kita untuk mewujudkan shallom Allah.
Jangan kita hanya berdiskusi dan berkoar-koar tentang idealisme. Tapi kita juga perlu berdiskusi dan berupaya untuk mempertahankan idealisme di dunia nyata. Karena seringkali idealisme bisa hilang karena kebutuhan yang harus dipenuhi dan kenyamanan hidup (jabatan dan kedudukan).
Akhirnya, mari kita mencapai tujuan untuk menjadi orang yang memiliki spritualitas, integritas, dan profesionalitas!







Hasil diskusi tematis GMKI Cabang Yogyakarta 21 Mei 2014 bertema “Kebangkitan Nasional dan Refleksi Reformasi Indonesia”. Diskusi dipantik oleh Gloriansi Umbu Heingu Deta (Ketua Cabang BPC GMKI Yogyakarta 2011-2013) dan dimoderatori oleh Herman Ngkaia (Sekfung Akspel, BPC GMKI Yogyakarta 2014-2016).